Selasa, 10 Januari 2012

Hong Kong Filmart 2011: Jalan Indonesia menuju Asia

KOTA Wan Chai, Hong Kong baru berdenyut sekitar pukul 09.00 waktu setempat, Senin (21/3/2011). Suhu udara menunjukkan angka 21 derajat celcius. Kesibukan kecil terlihat di gedung Hong Kong Convention and Exhibition Centre tempat digelarnya Hong Kong International Film & TV Market (Filmart) 2011, dimana Indonesia menjadi bagian dari event berskala internasional tersebut.
   Beberapa petugas pameran yang dikoordinir organisasi Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) yang pada hari sebelumnya sudah menata boots seluas 54 m2, pagi itu melakukan filnal touching, sebelum pameran dibuka tanpa melalui acara seremonial. “Tinggal menyiapkan trailer, menempel beberapa poster film dan menyiapkan permen untuk cemilan para pengunjung,” ujar Evi Hapiah sekretaris  PPFI  ketika dijumpai Kabar Film di  stand pameran.
   Ada 33 Negara peserta dalam event ke-15 yang digelar (mulai 21-24 Maret 2011)  oleh negara para jawara kungfu itu. Indonesia sendiri baru menjadi peserta yang keenam kalinya. Masing-masing negara peserta menampilkan gaya dekorasi stand pameran berbeda, termasuk stand Indonesia yang menghadirkan wayang golek tokoh Rama Shinta, dan Cepot.
   Ditampilkannya tokoh-tokoh wayang di stand Indonesia ini cukup menarik perhatian sebagian besar pengunjung pameran. Mereka ke-rap terhenti saat melintasi gerai Indonesia dan mengucapkan kekaguman pada keunikan wayang golek.
   “Boneka yang unik dan spesial,” ungkap seorang pengunjung wanita berkulit kuning bermata khas sipit, ketika menyambangi stand Indonesia di pagi itu. Ia bersama dua rekan lainnya sempat memotret dan mengamati wayang, sebelum melihat-lihat puluhan artikel pro-mosi film Indonesia. Hal serupa juga dilakukan oleh pengunjung dari berbagai negara lainnya.
   Sejumlah produser pengurus PPFI di pagi hari pertama pameran itu menyambut para tamu yang hadir. Mereka adalah Gope Samtani (Rapi Films/Kabid Produksi) kepala delegasi Indonesia, HM Firman Bintang (BIC Production/Ketua Umum), Ody Mulya Hidayat (PT Maxima Pictures/Sekjen PPFI), Harry Simon (PT Jatayu/Bendahara), Chand Parwez (PT Kharisma Starvision/ Kabid Tata Edar), Sunil Samtani (PT Rapi Film/Wkl Bendahara), Manoj Punjabi (PT MD Entertainment/Kabid Festival dan Luar Negeri).
   Peserta dari Indonesia tak hanya anggota PPFI, tapi perusahaan  lain seperti PT Pic[k]Lock yang diwakili sutradara sekaligus artis pemeran film Minggu Pagi  di Victoria Park, Lola Amaria, dan PT Kojo Anima diwakili produser Andriansyah. Perusahaan terakhir ini merupakan peserta mandiri (biaya sendiri) yang mewakili perusahaan film animasi satu-satunya dari Indonesia.
   Seluruh film Indonesia yang disertakan dalam Hong Kong Filmart 2011 berjumlah 24 judul dari 10 perusahaan film yaitu Pengantin Pantai Biru, Kalung Jaelangkung, Pocong Rumah Angker, Akibat Pergaulan Bebas, Love Story, Kabayan Jadi Milyuner, Virgin3, Air Terjun Pengantin, Jenglot Pantai Selatan, Love in Perth, Nakalnya Anak Muda, Ayat Ayat Cinta, Emak Ingin Naik Haji, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Rindu Purnama, Little Obama, Sang Pence-rah, Goyang Kerawang,  Pocong Jumat Kliwon (judul diubag Evil Rises), Taring (Dark Forest), Pocong Ngesot (Un Invited), Minggu Pagi di Victoria Park, dan Lost In Papua.
   Stand pameran Indonesia bersebelahan dengan stand Malaysia. Untuk kenyamanan pengunjung dan calon pembeli, ruangan pameran dilengkapi tivi monitor besar untuk memutar trailler film, rak tempat artikel serta booklet promosi film dan lokasi wisata yang dibagikan gratis, partisi untuk men-display poster film, serta empat set meja kursi.

Jalan menuju Asia
Hong Kong Filmart merupakan a-jang pemasaran produk film dan te-levisi dari seluruh dunia, yang dise-lenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council. Negara peserta kali ini  selain Hong Kong se-bagai tuan rumah, adalah Amerika, Inggris, Jerman, Indonesia, Jepang, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Israel, India, Belanda, Italia, Arab Saudi, Korea, Polandia, Ukra-ina, Cina, Turki, Perancis, Finlandia, Rusia, Taiwan, Philipina, Austria, Australia, dan Kanada.
   Bagi Indonesia, kesertaan pada event Hong Kong Filmart memiliki arti dan target tersendiri. Hal itu dikatakan Plt Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Kementerian Kebu-dayaan dan Pariwisata, Drs Ukus Kuswara MM,  ketika menyambangi stand pameran.
   “Pemerintah Indonesia memfa-silitasi keikutsertaan film-film Indonesia di sini, untuk seluruh film Indonesia. Tujuannya, selain untuk menjaga eksistensi perfilman juga memperkenalkan kawasan Indonesia yang layak untuk dijadikan lokasi syuting film internasional,” kata Ukus Kuswara kepada Kabar Film di Hong Kong, Senin (21/3/2011).
Selain memperkenalkan film Indonesia di luar negeri, secara khu-sus keikutsertaan Indonesia di Ho-ng Kong Filmart sebagai batu lonca-tan untuk memasuki pasar di wila-yah Asia.
   “Kita harapkan, Hong Kong akan  menjadi pembuka jalan bagi produk film Indonesia untuk masuk A-sia,” kata Ukus Kuswara yang hadir didampingi Direktur Perfilman Drs Syamsul Lussa MA.
   Dibandingkan negara lainnya, Indonesia termasuk yang cukup banyak mempresentasikan film-film horor di ajang ini. Menurut Gope Samtani, film horor Indonesia me-miliki keunikan dari negara lain. "Masyarakat luar menyukai film horor kita, karena unik dan tidak ada di film-film horor lain di negara manapun," kata Gope Samtani, ten-tang kesertaan sejumlah film bertema horor pocong yang kerap di-pertanyakan oleh kalangan tertentu di tanah air.
   Pada kesempatan lainnya, produ-ser yang juga Ketua Umum  PPFI HM Firman Bintang mengatakan, film nasional berangkat dari sema-ngat dan misi untuk menghibur. "Sejarah mencatat, film Indonesia awalnya alat hiburan, dan baru se-telah itu film menjadi media per-juangan dan idealisme lainnya. Jadi, intinya film memang harus bisa menghibur masyarakat," kata Fir-man Bintang dalam obrolan  ringan di Hotel Rosedale, Hong Kong tem-pat menginap delegasi Indonesia.
   Sementara, Lola Amaria menilai partisipasi Indonesia di Hong Kong Filmart merupakan persentuhan film nasional dengan dunia luar. "Sebagai media promosi, event ini cukup penting. Tapi sebaiknya me-mang ada evaluasi, agar kita benar-benar tahu jenis film Indonesia, yang disukai pembeli internasio-nal," ujar Lola Amaria.
   Selama tiga hari pameran digelar, tidak ada transaksi jual-beli film. Ini memang hal yang lazim menurut Gope Samtani. “Transaksi biasanya akan dilakukan oleh masing-masing pihak produser setelah pameran selesai. Di tempat pameran hanya terjadi tawar-menawar atau pe-ngenalan produk lebih dulu,” kata Gope Samtani.
   Seminggu setelah pameran, yakni pada 7 April 2011, PPFI melaporkan hasil dari pameran ke Direktorat Perfilman, Kementerian Kebu-dayaan dan Pariwisata yang antara lain menunjukkan adanya keterta-rikan sejumlah negara terhadap film Indonesia.
   Sebagai catatan, Indonesia tidak menyertakan seluruh film yang diproduksi. Padahal, ada 80-an film Indonesia pada periode 2010-2011.  Hal ini mengindikasikan  kurang terkordinirnya pemberangkatan film-film Indonesia ke pemasaran film di luar negeri. (teguh imam s)

Ine Febriyanti dan "Tuhan Pada Jam 10 Malam"

Ine Febriyanti (foto: dudut suhendra putra)
DIKENAL sebagai pemain sinetron, kemudian sering tampil di pentas teater. Itulah Ine Febriyanti beberapa tahun lalu. Namun di tahun 2011, Ine menancapkan jatidi-rinya sebagai penulis sekaligus sutradara film berjudul Tuhan Pada Jam 10 Malam. Di tengah rutinitas sebagai istri (suaminya, Yudi Datau adalah salah satu kameraman terbaik Indonesia), dan mengasuh 3 anak yang masih 'pecicilan',  Ine ditemui Kabar Film di kediamannya kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan pekan lalu. Berikut petikan obrolannya:
   Selamat ya, akhirnya punya film sendiri. Bagaimana prosesnya?
   Alhamdulillah terimakasih. Masa produksi film Tuhan Pada Jam 10 Malam aku tulis Desember 2009, syutingnya Maret 2010. Sengaja aku endapkan dulu karena film ini besar, dan bikin capek. Jadi yang bikin lama itu, selain enerji juga aku sempat tampil di pentas monolog 'Surti' bersama Goenawan Mohamad bulan November dan latihannya mulai Juni. Sekarang filmku sudah on line dan disiapkan untuk roadshow di 9 kota.
   Mengapa tertarik bikin film?
   Aku mengalir saja. Malah nggak memikirkan akan melanjutkan ka-rir di dunia seni. Karena aku sudah mau total mengurus rumahtangga. Tapi tak bisa dipungkiri, aku masih punya keinginan dan mimpi-mimpi. Sempat sih bikin dokumenter, tapi keburu hamil lagi. Kan anakku tiga, jadi ketika mau produksi sesuatu, eh hamil lagi.
   Jadi kendalanya soal pembagian waktu ya?
   Bukan terganggu tapi aku me-mang memprioritaskan keluarga. Karena waktuku buat mereka tidak bisa dibeli. Masa-masa emas mereka tak bisa diulang. Kebetulan, kemarin itu ketika menggarap film ini, momentnya pas anak-anak sudah mulai agak mandiri, tiba-tiba saya punya semangat untuk membuat film.  Lalu tiba-tiba, prek prek prek..jadi.
   Masih memantau perfilman?
   Sometime suka, tapi aku tidak terlalu memperhatikan industri film. Aku banyak bergaul di komu-nitas seperti di Avikom, karena anak-anak di komunitas punya gairah yang berbeda dengan industri. Kalau soal film industri, kan suamiku lebih ke arah itu dalam pekerjaannya. Jadi, selama ini aku dapat informasi film dari suami.
Behind the scene TPJ10M (foto: istimewa)
   Dimana perbeda konsep film kamu dengan suami (Yudi Datau-red)? 
   Berbeda jauh sekali, karena aku agak-agak sinting kalau dia relatif luruslah. Hahahaa..
   Film ini tidak mempertimbangkan penonton?
   Kalau suamiku, mungkin lebih membumi. Idenya realistis. Kalau aku realistis tapi dari sudut pandang yang berbeda; detilnya dan kedalamannya. Sebenarnya aku sering diminta tolong menyiapkan konsep gambar kalau dia sibuk. Jadi, aku belajar juga dari situ. Mencari refe-rensi gambar, bagaimana rasanya untuk gambar yang mau diangkat, dan lainnya. Tadinya, aku hanya asik saja bikin film, tapi dapat masukan dan terfikir untuk bisa sharing dan diskusi dengan penonton.
   Apa arti film buat Ine, sekadar memorabilia?
   Itu tergantung pribadi masing-masing. Kalau prinsipku, film harus punya kedekatan emosional dengan pembuatnya. Jadi kalaupun tidak punya kedekatan itu, aku harus mendekatkan diri secara emosional dengan film. Misalnya, kalau di industri orang bisa bikin film setahun enam judul, itu dahsyat banget. Dan, aku tidak sanggup seperti itu. Aku harus me-libatkan seluruh kedalaman diri ke dalam film yang aku buat. Kalau kita bisa masuk, maka akan menghasil-kan karya yang berbeda.
   Siapa referensi kamu untuk film?
   Selama ini aku tdak pernah cari re-ferensi, atau membanding-bandingkan dengan karya siapapun. Misalnya siapa-siapa orang yang bikin film, atau menonton film yang ba-nyak. Yang aku tahu kalau orang jarang bikin film, misalnya 5 tahun sekali, karyanya pasti dahsyat. Aku terkesan dengan nama Akira Kurosawa. Dan, seorang yang seperti ini karyanya akan dikenang sepanjang masa dibandingkan dengan yang bikin film enam judul setahun. Bikin tanpa ada pengendapan, ya sudah lewat begitu saja.
   Apa yang ada dibenak kamu saat mau bikin film ini?
   Ini sesuatu yang aku inginkan di masa lalu, dan baru bisa diwujudkan setelah aku punya keterbatasan. Sekarang ini, kakiku digendoli tiga anak yang aktif banget. Otomatis, jika harus memilih pri-oritas film atau keluarga, saya akan memilih anak-anak dan keluarga dibandingkan karir.
   Target penonton?
   Kalau nanti ditonton orang aku bersyukur, dan kalau tidak pun ti-dak apa-apa. Karena aku tidak ngoyo menjalankan profesi.
   Tapi tetap ada target, kan?
   Tadinya sih, nggap terfikir soal penonton. Tapi lama-lama aku fikir, kok rugi kalau karyaku nggak di-tonton. Aku sering undang komunitas seperti yang baru-baru ini a-dalah dari Teater Kubur, untuk me-nonton filmku yang masih online. Aku senang saja mendengar pen-dapat mereka yang beragam. Ma-kanya, aku terfikir, o ya film ini me-mang harus ditonton. Makanya aku bersama tim akan melakukan pemutaran film keliling 9 kota di bulan Mei nanti.
   Semangat Kartini masih ada?
   Nggak cuma Kartini yang meng-inspirasi, yang nggak kalah keren seperti Keumalahayati. Intinya, saya santai dan inginnya film ini akan ditonton dan bertemu audiens untuk berdiskusi. Karena ini juga akan menjadi forum aku belajar.
   Kendala lainnya dalam produksi?
   Tidak ada masalah, termasuk dalam pendanaan. Karena dapat juga dukungan dari Dedi Mizwar yang punya link-link untuk melancarkan produksi film ini. Pas di Yogya, juga dibantu teman-teman indie yang profesional di Yogya. Artinya semua dibayar dengan layak, tapi spiritnya independen. Termasuk untuk keliling 9 kota di bulan Mei.
   Darimana belajar mendirect? 
   Aku menjadi sutradara pakai naluri dan tidak belajar khusus. Aku kan sering main di panggung, jadi tahu bagaimana proyeksi bermain dari main teater, blocking. Meskipun berbeda mediumnya, tapi itu men-jadi basic untuk diterapkan di film. Dulu pernah bikin film Cinderella, dokumenter, videoklip sekali. Sete-lah itu menulis dan mendirect sen-diri film ini. Ini agak aneh juga.
   Puas dengan hasil ini?
   Sangat puas, karena aku melibat-kan seluruh emosi dan, apapun yang terjadi hasilnya adalah ini. Ya  inilah kapasitasku dalam membuat film untuk saat ini.  (teguh imam s)

Film 'Xia Aimei' perjuangan gadis China korban mafia trafficking

TEMA ketenagakerjaan dan perdagangan manusia belum tuntas diceritakan di film Indonesia. Kali ini, film berjudul Xia Aimei 'mengkritisi' kasus perdagangan manusia (human trafficking) dari sudut pandang korban yang berkewarganegaraan China. Film ini berusaha memaparkan kepahitan hidup Xixi, dan sejumlah gadis cantik impor lainnya yang berasal dari berbagai penjuru Negara. Sayang, eksekusi yang datar dalam penggarapannya tak memberi pesan kuat kepada penonton. Ditambah pengadeganan yang tak terjaga konsistensi secara teknis dan emosional hingga menyerupai sinetron.
  Naskah film yang ditulis oleh Alyandra, Toha Essa, dan Sally Anom Sari dikemas oleh sutradara Alyandra sebagai film pertamanya. Alyandra mencoba mengulas tentang pejualan gadis-gadis belia untuk dijadikan gadis penghibur di club mewah di jakarta.
   Mungkin yang menarik dari film Produksi Falcon Pictures  ini, sang sutradara mampu mengangkat kisah dari sisi yang berbeda. Ditambah lagi,  kisah Xia Aimei disuguhkan sederhana, sehingga penonton akan dengan mudah mencerna isi film yang dibintangi oleh Franda, Ferry Salim, Olga Lidya, Samuel Rizal dan sejumlah pemain lainnya.
   Xia Aimei diperankan cukup baik oleh Franda yang berwajah khas gadis China yang lugu. Jeratan utang keluarga, membawa Xia Aimei, gadis remaja asal desa kecil, Yangshuo Guangxi, China, masuk ke dalam bisnis penjualan manusia. Ia dan beberapa gadis lainnya dijadikan perempuan penghibur di sebuah club mewah bernama Le Mansion, milik Jack yang diperankan oleh  Ferry Salim. Di sana nama Xia Aimei kemudian diganti menjadi Xi Xi.
   Suatu malam Xi Xi, dipaksa untuk melayani Bos Marun, seorang kepala gangster di Jakarta. Karena ingin mempertahankan kehormatannya, Xi Xi dengan nekat melukai Bos Marun hingga berdarah darah. Setelah itu, Xixi memberanikan diri, untuk kabur dari Le Mansion. Pada saat itulah, Xi Xi bertemu dengan AJ (Samuel Rizal), yang tidak sengaja sedang mengambil data yang tertinggal, di club malam tersebut.
   AJ  menemukan Xi Xi yang bersembunyi di jok belakang mobilnya. Pertemuan AJ dengan Xi Xi itulah yang membawa AJ terlibat langsung dalam pelarian Xi XI. AJ ingin membantu Xi Xi pulang dan kabur dari jeratan Le Mansion.
   Dengan berjalannya waktu, tumbuhlah benih cinta antara A.J dengan Xixi. Sampai suatu saat anak buah Jack menemukan Xixi dan membawanya kembali ke Le Mension.
A.J lantas meminta pertolongan Intel Imigrasi (Noorman Kamaru) yang  ditemui saat sedang mengintai di Le Mansion.
   Adegan-adegan action mampu disajikan Alyandra tanpa menampilkan gambar yang menyeramkan, namun sangat mengena. Adegan percintaan juga mampu di tampilkan Alyandra dengan penuh romantika meski di beberapa scene muncul hal absurd. Misalnya saja, keinginan Xixi sebelum kembali ke Cina. "Sebelum pulang ke negaraku, aku ingin ke pantai," ucap Xixi tanpa konteks yang jelas.
   Kesederhanaan cerita film yang syutingnya dilakukan di China dan sebagian besar di Indonesia, diharapkan memeriahkan menyambut tahun baru Imlek bulan Januari ini dan  Xia Aimei mulai tayang di bioskop di seluruh Indonesia pada tanggal 12 Januari 2012.

Sinopsis
Jeratan utang keluarga membawa Xia Aimei ( Franda ), seorang gadis remaja asal desa kecil, Yangshuo Guangxi, China terjebak trafficking. Ia dan beberapa gadis lain dibawa ke Jakarta untuk menjadi perempuan penghibur di sebuah club mewah bernama Le Mansion. Di sana nama XIa Aimei diubah menjadi Xi Xi.
   Le Mansion memang bukan club mewah biasa. Club milik Jack ( Ferry Salim ) ini telah lama menjadi tempat prostitusi terselubung yang sering membawa perempuan asal China dan Uzbekistan untuk menjadi perempuan penghibur VIP di sana. Salah satunya adalah Xi Xi.
   Suatu malam Xi Xi dipaksa melayani Bos Marun, salah satu kepala gangster di jakarta. Karena Takut Xi Xi , Xi Xi panik dan melukai Bos Marun dan karena takut ia pun kabur dari Le Mansion. Pada saat itulah Xi Xi bertemu dengan AJ Park (Samuel Rizal).
   AJ Park adalah seorang cameraman underwater Indonesia mempunyai sedikit keturunan darah Korea yang sudah bekerja selama 5 tahun di Discovery Underworld International (D.U.I). Pada after party sebuah proyek penyelaman, AJ Park, Timun ( Gilang Dirgahari ) sahabatnya Kapten Rover dan baddi pergi ke Le Mansion. AJ Park yang merasa tidak nyaman dan risih dengan Le Mansion memutuskan untuk menunggu di luar dan bertemu dengan Intel Imigrasi (Briptu Norman) yang sedang telah lama melakukan penyelidikan terhadap Le Mansion yang dicurigai melakukan human trafficking.
   Tiba-tiba sesuatu terjadi di dalam Le Mansion, suasana pun menjadi kacau dan Timun tidak sengaja meninggalkan data penting pekerjaan mereka di bar Le Mansion. Mereka pun kembali untuk mengambil data yang tertinggal. Pada saat itulah AJ Park menemukan Xi Xi yang bersembunyi di jok belakang mobilnya. Pertemuan AJ Park dengan Xi Xi itulah yang membawa AJ Park terlibat dalam pelarian Xi XI. AJ Park ingin membantu Xi Xi kabur dari jeratan Le Mansion. (kf1)

Senin, 09 Januari 2012

Indosiar siapkan paket program ulangtahun ke-17

SUKSES bertahan hingga usia 17 tahun, Indosiar kian meruncingkan konsistensinya mengusung drama dan musik Korea. Boybandtop Korea, N-Sonic dan Shin Min Chul, didapuk untuk memeriahkan pestasweet seventeen stasiun televisi swasta itu.
   Shin Min Chul, pentolan boyband T-Max, akan ambil bagian dalam perayaan ulang tahun Indosiar yang bertajuk "Semarak 1 Tu7uan" pada 11 Januari 2012 dan disiarkan langsung dari Studio 5 Indosiar. Di tahun sebelumnya Indosiar sempat mengemas ulang tahunnya dengan konsep drama musikal. Indosiar juga pernah mendatangkan aktris Korea, Park Joo Mi dan girlbandAprilKiss, sebagai bintang tamu acara musik reguler, Hitzteria.
   “Kini dengan manajemen baru, karena bergabung dengan SCTV, kami akan membuat satu gebrakan sekaligus mempertegas visi sebagai televisi yang terus memutar drama-drama Korea,” ujar Manajer Produksi Indosiar, Egge DP Yulianto, dalam jumpa wartawan, di Jakarta, Rabu, 4 Januari 2010.
   Namun, tak hanya genre K-Pop yang akan memeriahkan panggung musik. Band Tanah Air pun akan ikut mengisi acara, seperti The Changcuters, Pee Wee Gaskins, d'bagindas, Indah Dewi pertiwi, Ridho Rhoma, Norman Kamaru, dan Budi Do Re Mi. “Untuk mendukung unsur K-Pop sendiri akan dibantu dengan penampilan Smash, Cherrybelle, dan 7-Icon,” ujarnya.
   Tahun ini pencinta drama Korea makin dimanjakan dengan sederet judul drama pecintaan. “Akan ada City Hunter, Miss Ripley, dan 49 Days,” katanya. Untuk program lain yang akan menjadi tayangan unggulan di tahun 2012 ini ada Talent Search: Galaxy Superstar, My Talented Family, Iron Chef Kids,dan FTV Laga. (kf1)

Renstra dan struktur baru Kementerian Parekraf


MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, memaparkan draft Rencana Strategis (Renstra) kementerian hingga tahun 2014. Hal itu disampaikan dalam lokakarya bersama stakeholders bertema “Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Meningkatkan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Masyarakat” di Balairung Sapta Pesona, Jakarta,  Rabu (4/1). Penyusunan Renstra ini merupakan tindak lanjut dari perubahan nomenklatur kementerian yang baru, dari Kementerian Kebudayaan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
   Di awal pemaparan, Mari Pangestu menekankan pentingnya sektor pariwisata terhadap perekonomian. Pertumbuhan pariwisata Indonesia selalu di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan melebihi perkembangan pariwisata dunia. Tahun 2011 perolehan devisa dari pariwisata diperkirakan mencapai USD8.5 miliar, naik 11.8% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini melebihi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan ada di level 6.5% dan pertumbuhan pariwisata dunia yang hanya berkisar 4.5%. Untuk kontribusi terhadap devisa, sektor pariwisata ada di peringkat 5 setelah minyak dan gas bumi, minyak kelapa sawit, batubara, dan karet olahan.
   Mari Pangestu menjelaskan bahwa untuk visi pariwisata, fokusnya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan. Upaya yang perlu dilakukan agar sejalan dengan visi tersebut adalah peningkatan daya saing produk wisata, pengembangan daya tarik, promosi terpadu dan berkesinambungan, serta pengembangan institusi dan sumber daya manusia.
   “Untuk pariwisata ada tiga hal utama. Destinasi yang sudah ada akan dikembangkan, mengembangkan destinasi baru, dan wisata minat khusus. Untuk wisata minat khusus yang akan dikembangkan adalah MICE (Meeting, Incentives, Convention and Exhibition), wisata bahari dan alam, wisata olahraga, serta wisata belanja dan kuliner,” jelas Mari Pangestu.
   Untuk pengembangan destinasi pariwisata, tambahnya, akan difokuskan pada pengembangan 15 Destination Management Organization (DMO), desa wisata, pusat rekreasi masyarakat, pasar wisata, zona kreatif, daya tarik wisata serta melakukan kerjasama dan kemitraan.


Struktur Kementerian Baru
   Pada kesempatan sama, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar juga memaparkan struktur kementerian yang baru yang telah mendapat persetujuan Presiden. Berdasarkan Perpres No.92 Tahun 2011 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Desember 2011, struktur organisasi eselon I Kemenparekraf terdiri dari: Setjen; Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata; Ditjen Pemasaran Pariwisata; Ditjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya; Ditjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Disain, dan IPTEK; Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 
   Sementara untuk staf ahli akan terdiri dari empat bidang yakni perlindungan keanekaragaman karya kreatif; jasa ekonomi, hubungan antar lembaga, dan IPTEK. 
  Baik Ditjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya maupun Ditjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Disain, dan IPTEK akan memimpin tiga direktorat. Ditjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya akan memimpin direktorat Perfilman, Seni Pertunjukan dan Musik, dan Seni Rupa, sementara untuk yang berbasis Media, Disain dan IPTEK terdiri dari direktorat media elektronik dan cetak, media digital, dan desain dan arsitektur. 
   Sapta menambahkan, struktur organisasi yang baru ini sudah mencerminkan visi, misi, dan tujuan, struktur dan sistem, serta sumber daya manusia. “Kita akan segera menyampaikan struktur yang baru ini ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Jika ini disetujui, kita bisa langsung bekerja,” jelasnya. 
   Lokakarya hari ini dihadari oleh sekitar 200 orang yang mewakili kementerian terkait, BUMN, asosiasi sektor pariwisata, asosiasi sektor ekonomi kreatif, perwakilan kota kreatif, dan perwakilan lembaga pendidikan tinggi. 
Proses selanjutnya dari Penyusunan Renstra ini adalah melakukan Lokakarya, secara khusus dengan mitra kerja pemerintah Komisi X DPR RI, dan melakukan harmonisasi sekaligus penelaahan bersama kantor Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas. (kf1)