Kamis, 19 Januari 2012

Dialog di Kampus LP3I: Pekerjaan Akting Semakin Diburu

Suasana dialog (foto: istimewa)
DUNIA akting tak lagi berdiri sendiri sebagai seni peran. Melainkan menjadi bagian dari bisnis industri entertainment. “Artinya orang yang ingin terjun di dunia seni peran tidak semata-mata ingin berekspresi seni, melainkan sebagai mata-pencarian. Menjadi pekerjaan,” papar Eddie Karsito, dalam ‘Dialog Interaktif Soal Seni Peran,’ di Aula Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi (LP3I), Kampus Pondok Gede, Rabu (11/1).
 Dialog yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi (LP3I) Kampus Pondok Gede bekerjasama dengan Humaniora The Art of Stage Anda Broadcasting ini, menghadirkan aktor dan aktris Eddie Karsito, Yati Surachman, serta Iwan Burnani (Sutradara) sebagai nara sumber. Ratusan mahasiswa dan mahasiswi, seta belasan siswa-siswi SMU Se-Kecataman Pondok Gede, cukup antusias mengikuti acara ini.
 “Kampus memiliki peranan penting dan strategies untuk menyiapkan generasi serta kader penerus bangsa. Oleh karena itu, diadakannya dialog interaktif soal seni peran ini diharapkan dapat menambah wawasan serta menjadi bagian dari keterampilan spesifik bagi mahasiswa. Kegiatan seni sangat penting dalam membentuk karakter seseorang. Di kampus LP3I Pondok Gede, seni peran akan menjadi wahana studi bagi mahasiswa yang bersifat non-akademik; soft skills. Melalui kegiatan ini kami harapkan mahasiswa kelak tidak saja cerdas, intelek, tetapi juga dapat  membangun citra dan harga dirinya, mampu, kompeten, lebih percaya diri, serta memiliki nilai,” kata A. Suarna Dijaya, Kepala Kampus LP3I Pondok Gede.
Eddie Karsito
 Akting lewat sinetron dan film layar lebar, lanjut Eddie Karsito, menjadi lapangan pekerjaan yang diincar banyak orang. Terutama kaum remaja. Mereka rela melakukan berbagai cara agar bisa mewujudkan impiannya menjadi artis terkenal dan banyak penggemar. “Fenomena tersebut terus berkembang sesuai tuntutan kebutuhan. Jumlah pelamar calon bintang setiap minggu meningkat. Bahkan beberapa Production House mengaku kewalahan menerima calon pemain, khususnya pendatang baru,” tukas aktor penyandang gelar Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.
 Melalui makalahnya, Eddie juga memberikan tips bagi para peserta dialog yang ingin merintis karir di industri hiburan. Menurutnya ada lima faktor yang patut menjadi perhatian bagi para pemula. Kelima hal tersebut, kata aktor yang namanya melejit lewat film Maaf Saya Menghamili Istri Anda dan film Mengejar Mas-Mas ini, meliputi; faktor minat, bakat, keahlian (skill), relasi dan promosi serta faktor keberuntungan. “Menjadi artis top dan populer di industri hiburan menjadi harapan banyak orang. Hal ini bisa serba mudah diwujudkan. Tetapi bisa sebaliknya. Sukses dapat diraih asal memiliki keterampilan, rumus dan jurus strategis. Tanpa bekal memadai, tak sedikit, umumnya para pendatang baru yang akhirnya salah arah dan dimanfaatkan situasi,” ujar aktor, wartawan yang juga penulis buku Menjadi Bintang : Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi ini.
 Menurut A. Suarna Dijaya, ‘Dialog Interaktif Soal Seni Peran’ ini menjadi kegiatan awal dari kegiatan pelatihan seni peran yang akan diadakan LP3I secara rutin setiap Rabu. Bertindak selaku instruktur, diantaranya para aktor senior, seperti Ray Sahetapy, Pong Hardjatmo, Dorman Borisman, Yati Surachman, dan Iwan Burnani.  “Beberapa artis muda seperti Dwi Sosono, Widi Mulia, Della Puspita, Krisna Mukti, Eddie Karsito, Ageng Kiwi, Indra L. Brugman, dan para artis lainnya juga akan ikut berbagi ilmu di kegiatan ini,” kata Suarna. (kf1)

Visit Lombok 2012: Pesta rakyat ‘Bau Nyale’ dan wisata sepeda

Bandara Internasional Lombok (foto-foto: imam)
BERSEPEDA menyusuri kota Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat mulai dari Bandara Internasional Lombok (BIL) sampai ke Tanjung Aan? Jika tertarik, silakan gabung bersama 1500-an peserta lain yang sudah mendaftar di acara bertajuk Bike Make a Tour 2012 yang menjadi bagian dari kegiatan pesta rakyat Bau Nyale. 
   Masyarakat Lombok memiliki legenda bernama Bau Nyale, yang kemudian menjadi pesta rakyat dan prosesinya dijadikan agenda wisata secara nasional dan internasional. Setiap tahun pesta rakyat ini digelar sepekan, mulai 5-12 Februari dengan acara malam puncak berupa ‘berburu’ cacing laut (nyale) pada dinihari. Cacing berwarna sangat indah ini dipercaya merupakan jelmaan Puteri Mandalika. Sebelum mencapai acara puncak Bau Nyale inilah, masyarakat mendapat aneka hiburan sekaligus melaksanakan prosesi ritual. 
   Bupati Lombok Tengah H Suhaili, FT, SH mengatakan  pihaknya bersemangat menyelenggarakan acara Bau Nyale ini di samping untuk melestarikan budaya nenek moyang juga bisa dijadikan daya tarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri. 
   ”Saya kerahkan daya upaya saya untuk terselenggaranya acara sepeda wisata tanggal 11 dan puncaknya di Tanjung Aan tanggal 12 pda acara Bau Nyale yang unik dan meriah. Kunjungi Lombok Tengah maka Anda akan mendapatkan pengalaman yang unik dan tak terlupakan,” ujar H Suhaili yang telah sukses menyelenggarakan acara serupa di tahun sebelumnya
  Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan pesta rakyat tahun 2012 dimeriahkan acara Sepeda Wisata, dimana musisi Dwiki Dharmawan telah ditetapkan sebagai ‘icon’-nya. Dwiki akan ikut bersepeda pada tanggal 12 Februari mendatang. 
  ”Saya akan ikut ke sana tanggal 8 untuk melihat-lihat musik tradisional di sana. Mungkin saja  di antaranya akan saya bawa ke pentas musik internasional, karena musik tradisional kita sangat disukai oleh pecinta musik dunia, unik dan bisa dibuat komposisi jenis musik apa saja,” ujar musisi kelahiran Bandung itu.
Pemukiman Suku Sasak di Desa Sade 
   Namun dalam acara Bau Nyale nanti Dwiki tidak akan menyanyi, melainkan mengikutu acara Sepeda Wisata. Dwiki akan bersepesa Wisata bersama dengan 5000 peserta lainnya yang melakukan start dari Bandara Internasional Lombok menuju ke desa Sade. Di sini para peserta bisa melihat berbagai souvenir khas Sade seperti aksesoris dan tenun khas Lombok.
   Lantas melanjutkan bersepeda ke pantai Kuta Lombok yang memiliki pemandangan dan pantai yang indah serta bisa menikmati berbagai kuliner khas Lombok. Tujuan akhirnya bersepeda ke Tanjung Aan yang menjadi pusat acara Bau Nyale diselenggarakan. Tempat yang belum lama ini dijadikan lokasi syuting film Sajadah Kabah oleh  sutradara dan pemain H Rhoma Irama tersebut akan dimeriahkan berbagai kesenian derah dan pentas music bersama artis dari Jakarta seperti Ita Purnamasari dan Firman, jebolan ajang bakat Indonesian Idol.
  Dwiki yang antusias dengan acara Sepeda Wisata itu sebab memang sudah lama menggemari olahraga bersepada. "Saya sudah menggemari bersepeda itu sejak remaja, mungkin sudah lebih dari tiga puluhtahun. Makanya saya sangat senang sekali dengan ada wisata bersepeda sambil menyaksikan pemandangan yang indah ini,” ujar Dwiki.
   Lombok sudah menjadi pilihan utama bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Khususnya Lombok Tengah kini sedang dirancang berbagai acara untuk disuguhkan kepada wisatawan agar betah dan ingin kembali lagi ke Lombok Tengah. Satu di antaranya Pesta Bau Nyale. Pesta rakyat ini merupakan tradisi perburuan cacing yang mempunyai nilai sakral bagi suku Sasak. Nyale adalah sejenis cacing laun yang muncul dari bebatuan di pagi hari. Masyarakat setempat mempercayai jika mendapat cacingnya banyak pertanda baik nasibnya. Maka tak heran jika masyarakat Lombok dan sekitarnya akan hadir di sana untuk mendapatkan cacing yang konon merupakan jelmaan Puteri Mandalika.

Kisah Putri Mandalika 
Tanjung Aan
Pesta Bau Nyale  adalah sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai nilai sakral tinggi bagi suku Sasak (suku asli Pulau Lombok) di Desa Sade. Keberadaan pesta ini berkaitan dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di daerah Lombok Tengah bagian Selatan, tepatnya pada masyarakat Prujut. yang merupakan kota kecamatan.
   Cerita itu mengisahkan tentang seorang putri yang sangat arif dan bijaksana, bernama Putri Mandalika. Ia adalahputri dari seorang raja yang  pernah memerintah di negeri Lombok. Wajah sang putri sangat elok, tubuhnya yang ramping dan perangainya yang baik membuat pangeran dari berbagai negeri berkeinginan untuk memperistrinya. Setiap pangeran yang datang melamar tidak ada yang ditolaknya. Namun, antara pangeran yang satu dengan lainnya tidak menerima jika sang putri yang cantik jelita itu diperistri oleh banyak pangeran.
Hal inilah yang akan menimbulkan terjadinya perang antara pangeran yang satu dengan lainnya, hingga membuat Putri Mandalika gelisah. Ia selalu termenung memikirkan bagaimana cara agar tidak terjadi pertumpahan darah.
   Akhirnya, sang putri menyerahkan cintanya untuk seluruh pangeran dan rakyatnya. Melalui kejadian alam luar biasa, sang putri menenggelamkan dirinya ke laut. Tidak seorangpun yang menemukan sang putri. Sebaliknya yang muncul adalah Nyale, sejenis cacing laut yang muncul dari bebatuan di pagi harinya. Nyale inilah yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. (tis) 

Sabtu, 14 Januari 2012

Anugerah Keris Panglima untuk pelaku industri wisata Medan

SEBANYAK 10 pelaku industri wisata di Kota Medan dianugerahi tropi ’Anugerah Keris Panglima’ dan koin Dinar emas pada malam Medan Tourism Award yang digelar di Garuda Plaza Hotel Medan, Senin (19/12/2011). Kesepuluh kategori penghargaan yang dinilai, masing-masing agen perjalanan, hotel, restoran, rumah makan, angkutan, penerbangan, gedung bersejarah, pekerja seni, media, dan tokoh pariwisata; kategori pekerja film yang mempromosikan wisata kota Medan tidak masuk kategori penilaian. 
   Padahal, sepanjang 2011 saja, dua sineas Medan mendapatkan penghargaan nasional di bidang film yang bertema budaya dan promosi pariwisata, yakni Onny Kresnawan, juara dalam Kompetisi film yang diadakan Kemenbudpar RI (sekarang ganti nama menjadi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) dan Andi Hutagalung, juara dalam festival Film Dokumenter Bali yang digelar Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. 

   Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, Busral Manan mengatakan,
pemberian penghargaan ini dilatarbelakangi oleh peningkatan jumlah kunjungan wisatawan yang konsisten selama beberapa tahun belakangan di Kota Medan.
   ”Kita menyadari bahwa target kunjungan hanya bisa dicapai melalui kerjasama semua pihak. Dengan demikian, Pemko Medan merasa perlu untuk mengapresiasi kinerja para pelaku wisata, serta mendorong mereka untuk bekerja lebih giat lagi di masa mendatang,” kata Busrol kepada wartawan.
   Busrol menambahkan, selain menjadi bentuk apresiasi, ajang Medan Tourism Award 2011 juga merupakan bagian dari rangkaian highlight menuju program Visit Medan Year 2012. 'Sebagai acara yang bernuansa wisata, maka kita juga mengisi acara ini dengan konsep konsep wisata yang menghibur dan mendidik,” imbuhnya.


Datang Telat
Acara bergengsi yang menghadirkan nuansa pasar malam di Esplanade tahun 1920. Seluruh dekorasi dan setting mencoba replikan Deli tempo doeloe itu terpaksa molor hampir satu jam karena Walikota Medan, Drs. Rahudman Harahap MM yang sejak awal diharapkan dapat langsung membuka acara.
   Tidak sedikit pengunjung termasuk tokoh wisata Medan yang kecewa, padahal Medan Tourism Award 2011 tersebut merupakan ajang pemberian penghargaan yang pertama kali dilakukan oleh Pemko Medan.
   Tikwan Raya Siregar, selaku panitia penyelenggara menerangkan, tim juri yang menilai terdiri dari para akademisi, pengamat, dan figur-figur yang dianggap kredibel untuk melakukan penilaian secara objektif dan bertanggung jawab.
   ”Penyeleksian kita lakukan dengan sangat hati-hati dan memperhatikan berbagai aspek,” jelas Tikwan
   Menurut Tikwan, pemberian koin dinar emas dalam event ini menjadi simbol kemurnian dalam penyeleksian.
   'Emas dalam satuan Dinar adalah senyawa murni yang lebih tahan korosi dan unggul sebagai mata uang, kami pilih sebagai simbol ketulusan hati dalam penghargaan ini,' terang Tikwan kepada Kabar Film di Medan.
   Tikwan berharao event seperti ini dapat menjadi perhelatan tahunan, juga langkah Kadis Pariwisata Medan ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat Sumatra Utara khususnya Medan, untuk mengembalikan tradisi Melayu Deli, menggunakan mata uang emas dan perak dalam transaksi.

 Berikut adalah penerima 10 kategori Anugerah ”Keris Panglima”:

1. Rumah Tjong A Fie, terpilih sebagai gedung bersejarah terbaik.
2. JW Marriott Medan, sebagai hotel terbaik & paling konsisten
3. Ben M Pasaribu, terpilih sebagai pekerja seni yang mengharumkan Kota Medan
4. Narasindo Tour and Travel, terpilih sebagai agen paling inovatif
5. Garuda Indonesia Airlines, terpilih sebagai maskapay penerbangan terbaik
6. Restoran Tip-top, terpilih sebagai restoran terbaik
7. Rumah Makan Soto Sinar Pagi, terpilih sebagai rumah makan terbaik
8. Blue Bird, terpilih sebagai angkutan umum ternyaman
9. Harian Medan Bisnis, terpilih sebagai media terbaik
10.Ben Sukma, terpilih sebagai tokoh pariwisata
 (Jufri Bulian Ababil)

Kamis, 12 Januari 2012

Perfilman nasional setara dengan dunia kuliner?


TIDAK banyak perubahan dari kebijakan perfilman nasional selama beberapa tahun ini. Masalah perundang-undangan, yang seharusnya menjadi payung hukum insan perfilman seakan jalan di tempat jika tak ingin disebut mandeg. Upaya pemerintah untuk mengajak insan film lebih mentaati hukum, melalui penetapan UU no 33 tahun 2009 tentang Perfilman Nasional hingga kini masih sebatas wacana. Pasalnya, UU Perfilman yang dalam prosesnya dipenuhi dinamika pro dan kontra di kalangan masyarakat film itu, tak juga dirasakan manfaatnya sejak tahun pertama penetapannya oleh DPR RI.
   Berlarutnya pembentukan PP dari UU Perfilman merupakan kesalahan strategis terhadap upaya perbaikan kinerja dan performa perfilman nasional baik dari sisi industrial maupun gagasan kreatif. Alih-alih ingin memberikan ruang istimewa bagi tetek-bengek perfilman, justru UU Perfilman kehilangan momentum untuk menjawab semua itu. Masyarakat film yang pro dan kontra ketika itu, hari ini mulai gamang lalu diam dan cenderung apatis. Sehingga terdengar samar-samar menyebut, film nasional tidak memerlukan undang-undang.
   Melihat sejenak ke belakang proses kelahiran UU Perfilman yang menggantikan UU Perfilman tahun 1992 yang usang, secara psikologis UU Perfilman yang ditetapkan tahun 2009 itu, sempat menjadi tonggak bersatunya idealisme insan perfilman antargenerasi dalam menolak 'campur tangan' pemerintah. Mereka menyuarakan penolakan dengan alasan UU Perfilman terlampau cepat ditetapkan, karena banyak hal yang harus dibicarakan dalam draft Rancangan UU Perfilman ketika itu. Kelompok yang mendukung penetapan UU Perfilman berkeyakinan penuh, materi dalam UU sudah final dan harus segera dilaksanakan demi perbaikan sektor perfilman nasional.
   Kini pergantian rezim melalui reshuffle kabinet telah berlalu 3 bulan. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dipimpin Menteri Jero Wacik pun berganti baju menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dipimpin Mari Elka Pangestu. Tidak ada tanda-tanda perubahan bagi sektor perfilman nasional. Semua institusi yang berada di bawah payung UU Perfilman dalam posisi menunggu. Selama itu pula perfilman nasional berjalan tanpa aturan hukum.
   Tanpa adanya aturan main dalam industri film ini memang menciptakan  'hukum rimba' di dalam perfilman. Namun, di sisi lain terdapat kesepakatan tak tertulis dari masing-masing stakeholder perfilman. Tak pelak, berbagai kasus usang seperti masalah data penonton, peningkatan SDM, bisnis film impor, tata edar perfilman, bioskop, kontrak kerja artis, pemberdayaan penonton, pengarsipan film, dan lain-lain terus mengemuka.
   Keluhan dari berbagai pihak yang bisa dijawab oleh UU Perfilman sebenarnya tidak pernah berhenti, namun pemerintah sebagai pengambil kebijakan seperti tak lagi mendengar 'keluhan-keluhan' masyarakat film tersebut sebagai teguran untuk mempercepat proses penciptaan PP. Di dalam internal Kementerian Budpar, dimana film berada di bawah pemantauan Ditjen Nilai Seni Budaya dan Film (NBSF) memang tak banyak SDM yang dapat segera memfasilitasi apalagi menguraikan persoalan. Di bawah seorang Dirjen yang mengurusi banyak hal, tentu akan sulit memberi perhatian lebih untuk perfilman.


Setara dengan kuliner
Dalam kegiatan lokakarya mengenai Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama para stakeholder di Balairung Sapta Pesona belum lama ini, dengan tegas dan lugas Menteri Mari E Pangestu menyebutkan, pemerintah akan meningkatkan perhatian pada sektor ekonomi kreatif berbasis budaya, yakni kuliner. Untuk pariwisata ada tiga hal utama yang menjadi perhatian. Destinasi yang sudah ada akan dikembangkan, mengembangkan destinasi baru, dan wisata minat khusus. Untuk wisata minat khusus yang akan dikembangkan adalah MICE (Meeting, Incentives, Convention and Exhibition), wisata bahari dan alam, wisata olahraga, serta wisata belanja dan kuliner.
  Dari sekitar 180-an peserta yang hadir dalam pemaparan Renstra Kemenparekraf itu, tidak terlihat perwakilan dari orang film yang minimal 'menyuarakan' nasib perfilman. Sebagian peserta adalah para pekerja di bidang kreatif jasa boga, wisata, dan komunitas kesenian. Apakah ketidakhadiran orang film di dalam lokakarya ini menjadi indikasi semakin lemahnya perfilman dibanding industri lainnya?
  Tidak berlebihan jika urusan belanja dan kuliner menjadi bagian rencana strategis pemerintah, sebab wisata kuliner sangat menarik dan sedang booming. Lihat saja bagaimana stasiun televisi membombardir program kuliner setiap hari, terutama Sabtu dan Minggu. Urusan film tampaknya tidak mendapatkan porsi sebesar soal wisata belanja dan kuliner. Atau mungkin film akan disejajarkan dengan dunia masak-memasak? Semoga hal itu tidak terjadi. Sebab, film sudah menjadi sebuah kebudayaan sendiri dan dianggap memiliki peran strategis dalam menciptakan masyarakat yang kreatif dan bertanggungjawab. (teguh imam suryadi)

Selasa, 10 Januari 2012

Monaco negeri cantik lebih kecil dari Depok

Kota pelabuhan Monaco terlihat dari Istana Monaco. Jalan raya itu kerap dijadikan ajang Grand Prix Formula 1. (foto: imam)
MENDENGAR nama Monaco, yang terlintas adalah arena balap  Grandprix Formula 1, Istana Raja Monaco, dan arena judi kasino. Maka ketika ada ‘tawaran’ dari pihak staf Konjen RI di Marseille --- yang selalu mengawal delegasi Indonesia di Festival Film Cannes 2011 -- untuk mampir ke Monaco, saya tidak menolak.
   Bersama rombongan minus Happy Salma, yang memilih menonton film ‘misbar’ di hari kedua Cannes, kami berangkat pukul 15.00 waktu Cannes, Perancis. Informasi saya dapat, perjalanan ke Monaco sekitar 2,5 jam.
  Ini menjadi perjalanan lintas negara. Namun, karena kami nongkrong di dalam mobil dinas Konjen RI, urusan administrasi lancar tanpa ada pemeriksaan paspor, misalnya.
   Melalui pintu tol yang menghubungkan negara Perancis dan Monaco, terlihat belasan tunnel berbentuk lorong. Lorong ini dibuat dengan cara membor gunung dan tebing. Sungguh eksotis. Kawasan ini pula, yang menjadi lokasi tragedi terjunnya mobil istri Pangeran Rainier III, Grace Kelly. Putri Grace meninggal dunia tahun 1982. Diduga ia terkena stroke saat berkendara dan tak mampu lagi mengontrol kendaraannya yang dikemudikannya ketika mengantar sekolah anaknya, Stephanie yang piatu.
Di depan Istana Monaco bersama Putri Indonesia Qory Sandioriva
 sekitar pukul 18.30 WIB
   Di perjalanan sebelum sampai Monte Carlo, mobil berhenti di pabrik pembuatan parfum tradisional terkenal, Fragonard, yang berdiri sejak 1926. Pabrik parfum eksklusif ini hanya berada di Grasse dan Eze saja. Hanya 30 menit saja di sini, lalu perjalanan di lanjutkan. Tiba di Istana Monaco saya jadi teringat istana Anak-anak di Taman Mini dan banyak bangunan di Jakarta, yang mengadopsi gaya mediteranian.
   Akhirnya sampailah juga di Casino de MonteCarlo. Lokasi ini merupakan jantung kota, yang menjadi daya tarik wisatawan dunia. Bangunan kasino tua sejak 1863 itu sangat menarik dari arsitekturnya yang bergaya Belle Epoque dengan interior mewah seperti lukisan, hiasan yang tertata apik, dan tempat ini kerap menjadi lokasi pembuatan film box office dunia.
   Tidak sengaja, saya mendengar percakapan ‘orang Indonesia’ yang turun dari sebuah mobil mewah dan kemudian masuk ke kasino. Pasti dia orang tajir. Sebagai negara yang dikenal berbiaya hidup tertinggi di kawasan French Riviera, Monaco menjadi tempat tinggal orang-orang jet set, maupun tempat tujuan para wisatawan kaya yang i-ngin memanjakan diri.
   Keunikan lain dari kasino ini adalah beragamnya jenis permainan judi yang mereka tawarkan. Antara lain adalah aneka roulette Eropa dan Inggris, 30 et 40, Chemin de fer, Blackjack hingga jackpot.
   Bahkan, Casino de Monte Carlo ini juga mengklaim dirinya sebagai satu-satunya kasino di dunia yang mampu menggelar sekian banyak permainan judi dalam waktu bersamaan. Dari sekian banyak permainan, French Roulette tetap jadi terfavorit. Pengunjungnya? Meski sekelebat mampir, saya melihat orang tua (benar-benar tua) yang sepertinya ‘keranjingan’ main game, dan juga anak-anak seusia SMP. Lagi-lagi, saya teringat game yang biasa ada di mal-mal di Jakarta.
Bis wisata yang unik siap membawa wisatawan
   Monaco luasnya 1,8 km2, berarti lebih kecil daripada kota Depok di Jawa Barat yakni 200,29 km2. Namun, ‘pemda’ Monaco canggih menata kota untuk Istana tempat tinggal Pangeran Rainier III, pelabuhan, hotel, arena balap, semua dikemas jadi satu tanpa ada ruang tersisa yang sia-sia untuk dijual kepada wisatawan.
   Saya sedang tidak beruntung ketika tiba di Istana Monaco, karena upacara pergantian pengawal istana berlangsung setiap pukul 11.-55, cukup menarik minat wisatawan maupun penduduk lokal. Bagi yang ingin melihat istana, bayar 6 Euro.
   Di bagian tepi laut, Monaco juga memiliki museum andalan, Oceanographic Museum, yang digagas Pangeran Albert I dari Monaco, mantan Angkatan Laut sekaligus peneliti kelautan. Di sini digelar berbagai koleksi ilmiah beliau yang terdiri dari berbagai jenis ikan, spesimen hingga kerangka tulang ikan.
Layaknya lokasi wisata, istana Monaco dikeliling para pedagang suvenir yang menetap di sana. Berbagai pernik seperti topi, t-shirt, gantungan kunci, kudapan, es krim, bahkan bendera tersedia di sini dengan harga rata-rata tak lebih dari 20 Euro. Saat melihat bendera, saya merasa ada di Indonesia. Ya, lambang negara Monaco memang ‘Merah Putih’, sama dengan Indonesia. Mungkin sebetulnya Monaco dan Indonesia masih bersaudara, pikir saya iseng.

Geografis
Monaco terletak di pinggir Laut Mediterania, antara kota Nice (Perancis ) dan perbatasan Italia. Sejarah Monako dimulai dari sebuah benteng yang di-bangun di atas perbukitan karang yang menjorok ke Laut Mediterania.
   Pada Januari 1297 wilayah ini di-kuasai faksi-faksi di Italia yang menentang Paus, sampai akhirnya sekelompok kecil tentara yang dipimpin oleh Francois Grimaldi yang memasuki benteng dengan menya-mar biarawan, mengambil alih benteng itu. Setelah kematiannya tahun 1309, Francois digantikan sepupunya, Rainer I, Lord of Cagnes, sekaligus mengawali kekuasaan keturunan keluarga Grimaldi yang berlangsung sampai hari ini.
   Meskipun sangat mungil negara Monaco dengan luas hanya 1.8 kilometer persegi, Monako merupakan pelabuhan penting dan pos militer strategis di awal sejarahnya. Tahun 1861, kerajaan ini menyerahkan sebagian teritorinya kepada Perancis dengan imbalan kemerdekaan dan bantuan keuangan. Penguasa Monaco saat itu, Charles III memfokuskan diri pada pembangunan ekonomi lewat pariwisata dan perjudian.
   Rainer naik tahta lebih dari 50 tahun, menjadikannya sebagai salah satu pemimpin negara terlama pada abad ke-20. Ia melakukan diversifikasi dengan menjadikan Monaco sebagai pusat perusahaan perbankan dan pusat konvensi. Ia digantikan putranya, Pangeran Albert II tak lama sebelum ia meninggal dunia tahun 2005.
   Sejarah modern Monako mencakup pernikahan Pangeran Rainier III yang naik tahta tahun 1949 dengan bintang film AS, Grace Kelly. Putri Grace meninggal dunia tahun 1982 dalam suatu kecelakaan mobil di Monako.
Kepangeranan Monako (bahasa Perancis: PrincipautĂ© de Monaco atau Monaco; Monegasque: Mu-negu atau Principatu de Munegu) adalah sebuah negara-kota dan negara terkecil kedua di dunia, setelah Vatikan, yang terletak di antara Laut Mediterania dan Perancis di sepanjang Pantai Biru ( CĂ´te d’Azur ). (teguh imam suryadi)