Sabtu, 20 Oktober 2012

FFI 2012 telan biaya Rp16,2 Miliar

Syamsul Lussa, Duto Sulistyadi dan Ukus Kuswara
DIBANDING tahun-tahun sebelumnya, ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2012 mendapat limpahan biaya berlipat-lipat, dengan total Rp16,2 Miliar. “Ini bukti keseriusan pemerintah,” kata Drs Syamsul Lussa MA, Direktur Pengembangan Industri Perfilman (PIP) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sabtu (13/10) malam di Metropole Theater, Jakarta.
   Ajang bergengsi bagi insan perfilman nasional ini memasuki penyelenggaraan ke-31 yang Malam Puncaknya direncanakan akan dilaksanakan di Yogyakarta, 8 Desember 2012. Sementara itu, Duto Sulistiadi selaku Ketua Panitia Pelaksana FFI 2012 mengatakan, “Ada sekitar 60 judul film bioskop, 50 judul film televisi (FTV), dan 50 judul film pendek yang akan dinilai dalam penyelenggaraan FFI tahun ini,” katanya, saat berpidato.
   Duto menambahkan FFI tahun ini akan mengusung tema “Film Kita, Wajah Kita”. Sedangkan malam pengumuman nominasi FFI dilangsungkan pada 24 November 2012. Dan puncaknya, akan berlangsung di halaman Benteng Vrederburg, Yogyakarta, 8 Desember.
   Sekjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Drs Ukus Kuswara MM yang juga hadir mewakili pihak pemerintah, juga menekankan pentingnya ajang tahunan ini.
   Para pemenang FFI diharapkan mampu bersaing dengan film peserta festival film mancanegara. “Kami memutuskan untuk mengikutkan pemenang FFI 2011, Sang Penari di ajang Academy Award tahun 2013,” kata Ukus Kuswara.
   Perihal kucuran anggaran penyelenggaraan sebesar Rp16,2 M, Syamsul Lussa menyebutkan, “Ada dua tahap. Pertama kita keluarkan Rp 4 miliar. Kemudian kita keluarkan lagi Rp 12,2 miliar. Totalnya Rp 16,2 miliar,” jelas Syamsul.
  
Katagori baru
Seperti tahun lalu, FFI yang kali ini mengangkat tema “Film Kita Wajah Kita” melombakan empat jenis kompetisi: film bioskop, film pendek, film dokumenter, dan film televisi. Yang terakhir itu hanya untuk film-film dengan durasi tayang minimal 70 menit atau lebih dikenal sebagai FTV.
   Duto menargetkan sekitar 60 judul bioskop dan 50 film televisi akan didaftarkan mengikuti kompetisi. Wakil Ketua Bidang Festival, Aditya Gumay, yang membawahi kompetisi dan penjurian, menjelaskan, pada kompetisi film bioskop awalnya akan digunakan sistem penjurian dengan Komite Nominasi seperti tahun lalu.
   “Saya pribadi menganggap system itu sudah ideal,” katanya. Namun kemudian dengan berbagai pertimbangan panitia memutuskan kembali menggunakan sistem Komite Seleksi. Sebagaimana diketahui, Komite Seleksi mulai diterapkan ketika jumlah film peserta semakin banyak sehingga merepotkan juri. Komite yang sering disebut juri awal tersebut menilai seluruh film peserta dan memilih
film-film yang secara utuh (in toto) dianggap baik untuk dinilai oleh Dewan Juri. Sistem ini beberapa kali menimbulkan kontroversi.
   Penyebabnya, sejumlah film yang memiliki unsur-unsur menonjol tidak dipilih oleh komite yang memang hanya ditugaskan menilai film, bukan unsur-unsurnya. Untuk menghindari tumpang-tindih penilaian itulah pada FFI 2011 diperkenalkan system baru penjurian.
   Komite Seleksi diganti dengan Komite Nominasi yang fokus melakukan penilaian kualitas teknis untuk menetapkan nominasi unsur-unsur terbaik. Komite beranggotakan 21 pekerja film dalam tujuh bidang (pemeranan, penyutradaraan, cerita dan skenario, sinematografi, artistik, penyuntingan, suara dan musik). Dewan Juri, yang terdiri dari tiga anggota komite dan empat juri baru, tinggal memilih pemenang Piala Citra.
   Meskipun kembali menggunakan komite seleksi, tahun ini terdapat perubahan dalam jumlah dan komposisi juri. Komite Seleksi beranggotakan Sembilan juri — terdiri dari lima pekerja film serta empat seniman, budayawan, dan pengamat atau kritikus film — akan memilih 10- 15 film pilihan. Untuk menjaga kesinambungan penjurian, semua anggota komite kemudian menjadi anggota Dewan Juri ditambah enam juri baru. “Jadi total ada 15 juri yang akan menetapkan nominasi dan memilih pemenang,” kata Aditya.
   Unsur-unsur yang akan dinilai menurut Adit sama seperti tahun lalu, dengan tambahan satu kategori baru, yaitu Penata Efek Visual Terbaik.

Tidak berubah
Penjurian film pendek, dokumenter, dan televisi tidak mengalami perubahan. Tujuh juri (film televisi) dan masing-masing lima juri (film pendek dan dokumenter) menilai seluruh film peserta untuk menetapkan nominasi dan pemenang. “Tapi ada sedikit perbedaan dalam persyaratan peserta film pendek, yaitu durasi maksimalnya kini 20 menit. Bukan 30 menit seperti tahun lalu,” jelas Akhlis Suryapati, koordinator penjurian film pendek dan dokumenter.
   Akhlis juga mengatakan anggota juri pada keempat kompetisi sudah tersusun tapi masih akan difinalisasi dalam rapat pleno panitia untuk disahkan. “Jadi sebaiknya jangan diumumkan dulu,” ucapnya. Pendaftaran film peserta FFI 2012 mulai dibuka sejak peluncuran akhir minggu lalu dan ditutup 31 Oktober. Informasi dan pendaftaran bisa dilakukan ke Sekretariat Panitia Pelaksana FFI 2012, Gedung Film Lantai 1, Jalan MT Haryono Kav 47-48 Jakarta 12770, atau melalui email sekretariatffi@gmail.com.
   Aditya mengingatkan, “Film bioskop yang bisa didaftarkan adalah film-film yang belum pernah mengikuti FFI sebelumnya dan/atau lolos sensor antara 1 Oktober 2012 sampai dengan 31 Oktober 2012. (kf1/bob)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar