Senin, 05 Desember 2011

Outbound kelam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

KEGIATAN outbound dan orientasi kepariwisataan wartawan di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang dilaksanakan 2-4 Desember 2011 menjadi yang paling kelam, selama beberapa kali pelaksanaannya. Pasalnya, salah seorang dari 40 peserta, Eri Anugerah (Media Indonesia) mendapat musibah, hingga jiwanya tak tertolong pada Sabtu (3/11).
   Kegiatan rutin

Kamis, 01 Desember 2011

Bertamu ke Kampung Sasak di Pulau Lombok

DATANG ke Pulau Lombok rasanya tidak lengkap jika tidak melihat dari dekat kehidupan masyarakat Sasak di Desa Sade. Selain keindahan wisata laut lombok yang eksotis, Lombok juga menawarkan wisata budaya yang unik dan tidak bisa dilewatkan. Salah satunya atraksi kesenian 'Gendang Baleg' yang menghadirkan 'funny dance'.
   Pulau Lombok sering disebut 'Pulau 1000 Masjid', karena terdapat 1632 bangunan masjid di pulau ini. Terletak di kepulauan Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah Barat dan Selat Alas di sebelah Timur dari Sumbawa. Untuk menuju Lombok, pelancong bisa berangkat dari Jakarta, Surabaya, ataupun Bali menggunakan pesawat terbang. Terutama kini ada Bandara Internasional Lombok, yang resmi beroperasi sejak Oktober 2011.
   Nah, pada pertengahan November 2011, penulis mengikuti perjalanan ke Lombok bersama sejumlah wartawan pada acara 'Press Tour' yang diadakan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif. Sejumlah tempat di Lombok kami kunjungi selama tiga hari yakni Taman Narmada yang terkenal dengan mata air Awet Muda-nya, Pusat Kerajinan mutiara, Pantai Senggigi, Tanjung Aan, serta kampung Suku Sasak yang unik.
   Satu tempat yang sempat penulis catat adalah Desa Sade, salah satu pemukiman warga Suku Sasak, yakni suku asli di Pulau Lombok di Lombok Selatan. Hingga kini masyarakat Sasak di Desa Sade masih mempertahankan budayanya di tengah arus perubahan jaman.
   Memasuki gerbang kawasan yang dihuni sekitar 150 Kepala Keluarga dari 700 jiwa, pengunjung disambut bangunan khas adat Sasak. Bangunan asli ini dipertahankan sejak jaman dahulu, meski sekitar Desa Sade sudah termasuk modern. Atap bangunan menggunakan ilalang yang telah disusun sedemikian rupa. Sehingga meski hujan lebat air tetap tidak bisa masuk ke dalam rumah. Hampir setiap rumah memiliki 'toko souvenir' oleh-oleh; mulai dari kain tenun asli yang dibuat di tempat, dan aneka pernik kerajinan lainnya.
   Rumah tradisional Sasak dibangun dari anyaman bambu dan beberapa pilar bambu sebagai tiang penyangga rumah. Rumah Sasak memiliki atap berbentuk gunungan yang terlihat menukik ke bawah dan terbuat dari susunan alang-alang.
   Untuk lantai rumah, suku Sasak memanfaatkan tanah yang telah dicampur dengan batu bata, getah kayu pohon serta abu jerami. Seringkali masyarakat suku Sasak mengolesi lantai rumah dengan kotoran sapi atau kerbau yang telah dihaluskan dan dibakar. Bagi suku Sasak, campuran kotoran sapi atau kerbau diyakini dapat menjaga lantai agar tidak mudah lembab dan retak.
   Berbeda dengan 'cashing' rumah yang tradisional, pada bagian dalam sebagian rumah adat Sasak sudah menggunakan semen, terutama bagian anak tangga yang menghubungkan ruangan depan dan belakang. Sementara lantainya berupa tanah liat. Yang Unik adalah lantai tanah liat dalam beberapa waktu sekali di pel menggunakan kotoran kerbau.
   Di tangga teratas terdapat pintu masuk rumah dari bambu yang berbentuk pintu geser. Karena tinggi pintu masuk rumah lebih pendek jika dibandingkan ukuran tinggi badan manusia normal, anda disarankan untuk merunduk ketika masuk ke dalam rumah Sasak. Turun temurun, tinggi pintu masuk rumah adat Sasak tidaklah berubah. Tinggi pintu rumah itu-pun memiliki arti. Masyarakat Sasak meyakini, posisi merunduk ketika masuk ke dalam rumah menjadi simbol, rasa hormat tamu kepada sang pemilik rumah.
   Di dalam rumah adat Sasak terdapat beberapa ruangan yakni ruang tamu, bale luar dan bale dalam. Bale luar dimanfaatkan sebagai tempat tidur bagi anggota keluarga. Sementara bale dalam menjadi tempat untuk menyimpan persediaan makanan dan harta benda keluarga.
   Ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, bale dalam dijadikan tempat untuk menyemayamkan jenasah sebelum dimakamkan. Tepat di samping tempat suku Sasak menyimpan persediaan makanan, terdapat dapur. Di dalam dapur inilah, anda dapat menjumpai tungku yang terbuat dari susunan batu bata. Suku Sasak memanfaatkan tungku itu untuk memasak dan ketika musim hujan tiba, tungku itu dijadikan perapian.


Kain tenun, tarian dan agama 
Masyarakat Suku Sasak dikenal sebagai masyarakat yang memiliki seni yang tinggi. Kerajinan Tenun khas Lombok menjadi andalan secara turun temurun. Konon gadis sasak belum bisa menikah jika belum bisa menenun, sehingga tradisi ini tetap terjaga. Selain dari menenun kehidupan Sasak di Desa Sade adalah bertani.
   Meski umumnya menganut agama Islam, namun budaya dan tradisi sebelum Islam masuk ke Sasak masih sangat kental. Sehingga dari kehidupan agama nuansa Islam Sasak cukup kental di sana. Untuk mempertahankan tradisi Desa Adat Sasak, di Sade tidak diperkenankan mendirikan bangunan selain bangunan adat. Namun bagi Suku Sasak yang ingin membangun rumah bukan rumah adat Sade tetap diperkenankan namun harus di luar Desa Sade.
   Selain itu banyak warga Sade yang menikah dengan sesama warga Sade sehingga tradisi sasak tetap terjaga. Masyarakat Sasak merupakan kekayaan budaya bangsa yang mencoba bertahan dan tetap eksis di tengah gerusan jaman. Komitmen dari banyak pihak yang akan menentukan eksistensi mereka.
   Pada kesempatan berkunjung, kami disuguhi atraksi 'Gendang Baleg' sebuah tarian adat dibawakan dua penari pria yang membawa gendang besar. Tarian ini mengisahkan kegigihan dalam peperangan.
   Atraksi ini dibagi dalam empat bagian, yakni Tari Gendag Baleg, Tari Gandrung (dua petarung saling memukul dilengkapi perisai), Tari Petut (menampilkan dua orang anak-anak, sebagai partisipasi menghibur pengunjung), dan yang paling menghibur adalah 'Tarian Lucu' atau 'funny dance' yang dibawakan seniman yang biasa disapa Amak (bapak).
   Penari Amak ini karena lucunya, sempat diundang khusus oleh Presiden SBY di hotel tempatnya mengingap ketika berkunjung ke Lombok Oktober 2011 lalu. Si penari yang lucu ini memoles wajah dan pakaiannya seperti badut. Beberapa diantara pengunjung pun bernafsu untuk 'foto bareng' artis yang satu ini untuk 'oleh-oleh'. (teguh imam suryadi)

Selasa, 29 November 2011

Inilah Video-Klip Terbaik versi Klik! Awards 2011

Artis pendukung dan tim juri Klik! Awards 2011 (foto: trisno buyil)
STASIUN televisi Antv memberi penghargaan kepada para sutradara video-klip musik terbaik, melalui ajang bertajuk Klik! Awards 2011. Pada gelaran yang pertamakalinya diadakan ini, pihak Antv merekomendasikan 5 video-klip untuk dinilai oleh para juri pada malam pemberian penghargaan yang berlangsung di Studio Antv Epicentrum, Jakarta, Selasa (29/11) malam. "Kami ingin mengapresiasi karya para video-clip maker, agar video-klip musik Indonesia semakin berkualitas," kata Dudi Hendrakusuma, Presiden Direktur Antv kepada wartawan di Jakarta.
   Sebagai sebuah program, Klik! merupakan tayangan yang menampilkan video-musik Indonesia. "Sudah se-jak dua tahun program ini tayang dan baru dapat kesempatan dibuat sebagai ajang penghargaan," kata Hetty Purba Wakil Direktur Produksi Antv, yang juga hadir bersama para artis pendukung acara antaranya Tuti Wi-bowo, Julia Perez, dan lain-lain.
   Dikatakan Hetty, kendati tidak sebesar awarding lain yang sudah ada, tapi dia sangat berharap suatu saat Klik! Awards akan menjadi ajang yang bergengsi dan besar dampaknya bagi industri televisi dan musik khu-susnya. "Dengan dukungan para artis dan juga media, mudah-mudahan acara ini bisa besar nantinya," kata-nya.
   Sejumlah katagori disiapkan untuk memperebutkan 11 penghargaan, antaranya: 1. Video Musik Pop Ter-baik, 2. Video Musik Pop Rock Terbaik, 3. Video Musik Dangdut Terbaik, 4. Video Musik Pendatang Baru Terbaik, 5. Video Musik Pop Melayu Terbaik, 6. cerita Video Musik Terbaik, 7. Pemeran Video Musik Terbaik, 8. Artis Penyanyi Fenomenal, 9. Sutradara Video Musik Terbaik, 10. Video Musik Terbaik, dan 11. Video Musik Favorit di Media Sosial.
Trio Macan (foto: Trisno Buyil)
   "Kami mendapat lima video-klip musik dari pihak Antv yang siap untuk kami nilai. Ini memang cukup me-nyulitkan, karena kami hanya menerima kelima video pilihan. Itu artinya semuanya sudah yang terbaik," kata Andre F Sumual, salah seorang juri yang juga adalah wartawan.
   Menurut Andre, semangat Antv untuk mengapresiasi para pembuat video-klip musik perlu didukung karena sudah cukup lama tidak ada ajang penghargaan seperti ini. "Karena video-klip sangat mendukung musik di dalam industri televisi ke depan," kata Andre Opa, dalam obrolan dengan Kabar Film.
   Secara teknis Antv mengelompokkan materi video yang ada sesuai katagori (dirilis periode Juli 2010 - Oktober 2011) lalu juri memilih 5 nominasi di setiap katagori.


Berikut ini adalah daftar pemenang Klik! Awards 2011 
1. Video Musik Pop Terbaik: Vierra - Terlalu Lama - SIM F - Musica Studio's
2. Video Musik Pop Rock Terbaik: Pay Vanya Irang - Pas Kena Hatiku - Julian Qubik - Multiswara
3. Video Musik Dangdut Terbaik: Trio Macan - Sakit Hati - Renny Fernandez - Nagaswara
4. Video Musik Pendatang Baru Terbaik: Budi Doremi - Angga Dwimas Sasingko - Wanna-B
5. Video Musik Pop Melayu Terbaik: Wali - Bukan Bang Toyib - Eman Pradipta - Nagaswara
6. Cerita Video Musik Terbaik: Marcel - Peri Cintaku - Fahar Bustomi - E-Motion
7. Pemeran Video Musik Terbaik: Superbejo - Kawan Kawin - Julian Qubik - Multiswara
8. Artis Penyanyi Fenomenal Terbaik: Ayu Ting Ting -Alamat Palsu
9. Sutradara Video Musik Terbaik: Tepan Cobain - Abracadabra - Mulan - Arka Musik
10. Video Musik Terbaik: RAN - Sepeda - Angga Anggur
11. Video Musik Favorit di Media Sosial: Dadali - Disaat Ku Mencintaimu - Richard Buntario - Nagaswara. (tis)

Tim film ''Bayangan Aku dan Kamu' mencari donatur

DALAM rangka menyelesaikan tugas karya akhir Diploma Tiga (D3) berupa film sebagai syarat kelulusan bidang seni film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sejumlah mahasiswa menawarkan sponsorship kepada para donatur. "Kami sangat ingin berkarya dengan kualitas cerita dan teknis terbaik sesuai proses kekreatifan kami selama kuliah, namun saat ini kami terkendala biaya produksi," kata Alexander Vito, Ketua Departemen Produksi film 'Bayangan Aku dan Kamu' dalam suratnya ke Tabloid Kabar Film.
   Untuk memproduksi film yang akan dikemas dalam durasi sekitar 15 menit itu, Vito didukung tim inti yakni Fuad Belahadi (Ketua Dept Penyutradaraan), Sustika Nuri Sumiarwaji (Dept Penulisan Skenario), Noviana Styaji (Dept Penulisan Skenario), Rivan Hanggarai (Ketua Dept Penataan Kamera), Cahyaning Wulan Roso (Ketua Dept Artistik), Gading Ahmed Julio (Ketua Dept Penataan Suara), dan Vivaldi (Ketua Dept Editing Film).
   Tema cerita film tentang harga diri dua orang perempuan, yaitu antara ibu dan anaknya dengan ide pokok yakni tidak ada kedamaian di dalam ketidakjujuran. "Pesan ceritanya adalah, tidak ada kedamaian di dalam ketidakjujuran," kata Vito, yang akan didukung calon pemain antaranya Mega Margiono sebagai ibu, dan Linda Ulviana sebagai Rina.
   Sekilas sinopsis film ini, situasi di Jakarta yang ramai dan gemerlap. Seorang gadis, 22 tahun bernama Rina sedang memikirkan problemnya di sebuah bangku taman. Sementara seorang ibu berusia 45 tahun sedang gelisah menunggu kedatangan Rina. Sesampainya di rumah, Rina dipergoki pulang malam dan ditegur. Rina tidak menerima teguran sang ibu. Dia kesal dan membanting bingkai foto, sehingga sang ibu menamparnya. Suasana hening. Secara perlahan si Ibu mulai bercerita tentang masa lalu, hingga lahirnya Rina. Si ibu bercerita bahwa dulu dia diperkosa lelaki yang tidak dikenalnya lalu hamil dan lahirlah Rina.
   Karena terkejut dengan cerita sang Ibu, Rina semakin galau dan marah lalu masuk kamar menyakiti dirinya sendiri. Sang ibu terkejut ketika melihat Rina bersimbah darah, dan membawa ke rumah sakit. Setelah siuman dari pingsan, Rina melihat sang ibu di sisinya. Rina pun meminta maaf pada sang ibu.
   "Drama ini adalah kisah realita kehidupan manusia yang terjadi di Jakarta dan kota besar lainnya, yaitu tentang pemerkosaan dan hamil di luar nikah. Selain untuk tujuan akhir sekolah, film ini juga membawa pesan bahwa inilah realita kehidupan manusia, dan kerasnya kehidupan," jelas Vito, yang pernah menjadi freelancer di sejumlah rumah produksi.
   Seluruh biaya produksi diestimasikan sebesar Rp18 Juta. "Kami menawarkan dukungan sebesar itu kepada donatur sebagai sponsor tunggal. Jika ada yang berkenan kurang dari itu, kami posisikan sebagai sponsor utama yakni Rp15.300.000 dengan ketentuan masing-masing," ujar Vito. Bagi calon donatur dapat menghubungi Vito di nomor 081905535770. (kf1)
  

Konser Keenan Nasution di TIM dan kejutan dari Ida Royani

Keenan Nasution diapit Daaryl  (anak) dan Ida Royani (istri) saat konser hari
pertama di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (foto: dudut sp) 
"INI kado ulangtahun perkawinan kami yang ke-32 tahun," kata Keenan Nasution di atas panggung, setelah dia bersama Ida Royani, artis penyanyi era 1970-an yang juga istrinya itu dan Daaryl salah satu anak mereka menyanyikan lagu Don't Gave Up milik Peter Gabriel dari grup Genesis.
   Sebelum ke panggung, Ida Royani yang berbusana dan jilbab hitam duduk di bangku penonton sempat menolak ajakan Keenan dan Daaryl yang naik lebih dulu. (Bahkan, beberapa lagu sempat dibawakan oleh keduanya). "Ayo dong Ma, kita nyanyi, jangan lupa bawa kacamata," seru Daaryl merayu mamanya dari atas panggung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
   Penonton pun memberi applaus dan celetukan meledek lucu, sebelum dan sesudah keluarga harmonis ini tampil. Celotehan Sys NS sebagai MC acara Konser Keenan Nasution bertajuk "Apa Yang Telah Kau Buat Untuk Sesama Manusia?" ini menambah suasana konser lebih 'friendly'.
   "Saya sudah bukan penyanyi lagi tapi nenek-nenek. Setelah ini nggak mau nyanyi di panggung. Cuma kali ini saja ya, buat surprised. Tuh, nyanyinya juga seadanya karena nggak pake latihan," celoteh Ida Royani yang sukses berduet dengan Benyamin S di tahun 1970an saat membawakan lagu gambang kromong.
   Konser tanpa dukungan sponsor satupun produk ini cukup meriah dan berhasil memukau penonton. Mereka yang hadir adalah para pecinta karya-karya Keenan Nasution dari kalangan anak muda saat ini, maupun anak muda di tahun 1970-an yang kini sudah "Asam urat". Tidak terlihat bangku kosong dari kapasitas gedung sekitar 400 kursi tersebut.
   Pada konser hari pertama, Senin (28/11) sejumlah artis pendukung tampil membawakan karya-karya Keenan yang terkenal puitis dengan balutan musik rock, blues, hingga pop progressif.
   Konser dibuka oleh lantunan suara Raffi diiringi Band Rita Silalahi membawakan dua buah lagu Opera Jalanan dan Adikku. Suara khas Raffi menghentak dan cukup powerfull. Kemudian tampil Arry Syaff mantan vokalis grup Cynomadeus kini bergabung di Cockpit, membawakan dua tembang.
   Daaryl anak Keenan Nasution dari perkawinan dengan Ida Royani tampil membawakan Zamrud Khatulistiwa yang pernah sangat populer dibawakan Guruh Gipsy. Dengan gaya anak muda yang ekspresif, Daaryl memukau meski harus sering terlihat berusaha 'nyontek' song list yang tergeletak di lantai panggung.  
   Setelah itu dilanjutkan secara berturut-turut penampilan Kadri dari KPJ melantunkan Dibatas Angan Angan dan Jakartaku Sayang.  Aransemen lagu ini sedikit mengingatkan pada Bohemian Rhapsody-nya Freddy Mercury bersama Queen.
   Usai penampilan Harry Sabar, setting konser berubah. Keenan yang semula menyanyi, kini duduk membawakan solo piano. Usai sebuah nomor pada pianao, pentas lanjutkan penampilan kelompok Noor Bersaudara. Keenan juga berjam-session menggebuk drum bersama 2 anak muda penabuh drum Yandi dan iqbal.
   Suasana menghentak dari aksi gebuk drum pun 'dicairkan' dengan penampilan tiga musisi jazz Benny Mustafa (drum), Riza Arshad (saxophone), dan Keenan Nasution (piano) yang membawakan Life Style dalam jazz yang memikat."Selama saya bermusik, baru sekali ini bermain sama Benny Mustafa. Ini sangat menyenangkan," kata Keenan tentang koleganya yang seangkatan dengan musisi jazz Jack Lesmana.
   Yang juga menarik adalah penampilan grup Gipsy dalam formasi Nasution bersaudara terdiri dari Oding, Keenan ditambah Onan dan Raydi Noor. Marchel Siahaan, bintang tamu pada konser malam pertama ini membawakan Cakrawala Senja dan Dirimu dengan sangat syahdu. Dia juga berduet dengan Keenan untuk lagu Dirimu. Sebagai pamungkas dari konser kali ini, Keenan tampil membawakan lagu ciptaannya sendiri Nuansa Bening.
   Konser akan dilanjutkan pada Selasa (29/11) malam mulai pukul 20.00 dengan bintang tamu Once dan Fariz RM. Para musisi pendukung lainnya Gipsy (Gaury Nasution, Oding Nasution, Ronny Harahap, Harry Sabar, Raidy Noor, Onan, Edwin Hoedioro, Krisna), Arry Syaff (Cockpit), Kadri (KPJ), Warman Nasution (TOR), Daaryl Nasution, Riffy (InaBlues), Noor Bersaudara, Riza Arshad, Benny Mustafa, Matez, Frans Sunto, Yandi, Budi, dan Denny TR dengan music director Rita Silalahi.
  Terselenggaranya Konser juga disupport oleh Gilang Ramadhan dengan Indonesian Drummer, sound sisytem oleh DSS, dan lighting oleh Pentas Visual Mandiri. (tis)

Senin, 28 November 2011

'Galaxy Superstar' Indosiar, ajang menuju juara 'Korean style'

Yon Jwe Kon
BANYAK jalan untuk menjadi superstar kendati tak mudah mencapainya. Salah satu cara, mengikuti ajang pencarian bakat. Indosiar bekerjasama dengan YS Media pun menggelar ajang pencarian bakat (talent search) Galaxy Superstar. "Ajang ini juga menjadi mimpi anak muda Indonesia, untuk mengikuti gelombang budaya Korea," kata Humas Indosiar, Gufroni Sakaril, ditemui Kabar Film di ruang kerjanya, Senin (28/11).
   Indosiar sendiri dikenal sukses melahirkan program talent search dan konsisten menggelar program drama korea. Demam K-POP Star yang melanda dunia pun menjadi perhatian. Galaxy Superstar  dengan tag line “Menjadi Bintang Asia” bermaksud menyangi dominasi Korea.
   "Dengan menjadi pemenang di ajang ini, Indonesia akan bicara di tingkat internasional karena peserta akan dipentaskan di Korea," lanjut Gufroni.
   Program baru dan pertama kali di Indonesia ini  ingin mencari orang  Indonesia bertalenta untuk dilatih menjadi  Superstar di Korea selama 6 bulan. Program ini tidak saja melahirkan bintang baru yang siap mengguncang Asia, melainkan juga menjadi tontonan acara televisi yang menarik. Syarat perserta laki-laki atau perempuan berusia 17 tahun atau lebih dan mendapat ijin dari orang tua dan sekolahnya (jika masih sekolah). Bisa solo, duet, trio atau kelompok. Pemenang calon superstar baru itu akan mendapatkan pelatihan secara khusus baik vokal, tari, akting dan lainnya langsung dari para musisi yang telah melahirkan bintang K-POP Korea. Bahkan mereka akan tinggal dan hidup layaknya K-POP Star serta mendapatkan bonus mengunjungi tempat-tempat wisata di Korea.
   Gebrakan baru Galaxy Superstar di awal tahun 2012 ini bakal menggelar audisi di 5 kota besar yakni Jakarta  (17-21 Januari),  Medan ( 24-28 Januari), Makassar (31 Jan-4 Februari), Surabaya (7-11 Februari) dan Semarang (14-18 Februari). Sementara untuk program tayang direncanakan bulan Februari 2012. Beberapa artis profesional yang rencananya akan terlibat sebagai juri diantaranya Pongky Barata dan VJ Marissa
   Program ini dirancang selama 1 tahun oleh tim ahli K-POP termasuk musisi dan produser terbaik Korea. Dalam waktu kurang lebih 9 bulan yakni Januari-September 2012 akan lahir bintang Superstar baru Indonesia. Dengan pelatihan sistem K-POP akan  lahir bintang yang menjadi idola baru di Asia.  Pelatihan bakal melibatkan produser  dan musisi handal dari Korea yakni Kim Jin Woo (produser), Kim HyeongGu (produser) dan Kim DoHum (Composer), Hwang SeongJin (song writer), Shin SaDong HoReangl (Composer) dan Choi GabWon (Song Writer) yang sukses melahirkan artis ternama antaranya Tiara, CN Blue, Beast, Four Minuite, FT Island danlain-lain. (kf1)

Minggu, 27 November 2011

Sutradara Chiska Doppert bukan Nayato..

Chiska Doppert (foto: bobi)
FAMILIAR dengan nama Chiska Doppert? Agaknya nama ini memang kerap diidentikkan dengan film horror. Lebih tepatnya film-film yang dibuat oleh Nayato Fio Nuala. Chiska dianggap public sebagai salah satu nama alternatif Nayato. Benarkah demikian?
   "Saya klarifikasi. Itu memang namaku sendiri," tegasnya saat dihubungi beberapa waktu lalu. Chiska termasuk sutradara yang filmnya lumayan sukses, Ada Apa dengan Pocong. Sejak ditayangkan pertengahan Juni silam sudah ditonton 300 ribu.
Selama ini Chiska mengaku bekerja di Cinema Factory, rumah produksi milik Nayato. "Saya biasa menjadi co-director. Tapi tidak mungkin pakai nama sendiri," lanjutnya lagi. Menurut pengakuannya 35 judul film layar lebar mereka suplai untuk bioskop di tanah air.
   Tahun 2005, Chiska sempat membuat film Missing dengan nama sendiri. Disusul dengan proyek berikutnya Ada Apa dengan Pocong, pesanan produser H Firman Bintang. "Saya memutuskan untuk turun gunung," selorohnya mengapa dia membuat film dengan nama sendiri.
   Bulan Juli, film Chiska yang dibiayai Batavia Pictures meluncur di layar bioskop. Fim horor berjudul Tumbal Jailangkung ini dibintangi sejumlah artis muda antara lain oleh Soraya Larasati, Violenzia Jeanette, Donny Weller, Rocky Jeff.
   Kok horror terus? “Ya, permintaannya kan baru ini,” kilahnya santai..(bobi)

Jumat, 25 November 2011

Menggalang Solidaritas ASEAN via Gambar Hidup

(Catatan Bobby Batara dari Kuta, Bali)
HARI Selasa, 15 November 2011. Penerbangan siang hari dengan maskapai Lion Air membawa rombongan 12 orang jurnalis ke pulau dewata. Di sana konon akan berlangsung perhelatan gambar hidup negara-negara di kawasan Asia Tenggara, ASEAN Film Festival. Sebuah hajat perdana yang akan digelar antara 16-17 November 2011.
   Festival ini sendiri memang nyaris tak terdengar. Info yang saya dapat hanya isyarat bahwa nama saya masuk daftar wartawan yang diundang ke ajang ini sejak bulan Oktober silam. Tahu-tahu, menjelang KTT ASEAN festival ini muncul. Entah ada hubungannya dengan event politik yang dihadiri para kepala negara itu, entahlah. Yang jelas, ajang ini mengusung tema “ASEAN: The Global Film Connection.”
   Kawasan ASEAN memang patut diperhitungkan di peta sinema mancanegara, terutama beberapa tahun belakangan. Sebut saja Apichatpong Weerasethakul. Lewat film Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives dia meraih Palem Emas di ajang kompetisi Festival Film Cannes tahun 2010. Selain Apichatpong, masih banyak nama sineas asal Asia Tenggara yang lumayan bicara di ajang festival bergengsi macam Lav Diaz atau Brillante Mendoza misalnya.

Problem Senada
Gelaran hari pertama ditandai dengan konperensi pers menjelang makan siang. Bertempat di restoran Planet Hollywood, Kuta hanya beberapa blok dari hotel tempat kami menginap. Di sana duduk beberapa narasumber dari negara yang filmnya diputar di ajang ini. Mereka antara lain adalah Anousone Sirisckda ( sutaradara Only Love- Laos), Vongchith Phommachack ( Deputi Departemen Perfilman Laos ), Reath Narith ( sutradara Kiles- Kamboja ), Mee Pwar ( sutradara Zaw-Ka nay Thi- Myanmar ), Chito S. Rono ( sutradara film musikal Emir- Filipina, Jose Miguel De La Rosa ( Direktur Eksekutif Badan Pengembangan Film Filipina), Dang Nhat Minh ( sutradara Don't Burn-Vietnam), serta Vu Thi Hong Nga (konsultan Hubungan Internasional Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata).
   Dimoderatori oleh  Lalu Roisamri, dedengkot JIFFest acara ini mengungkapkan banyak fakta menarik.Di beberapa negara jiran bahkan kondisinya mirip dengan Indonesia, terutama masalah distribusi film. Dominasi film impor membuat film lokal nyaris tak berkutik. Seperti apa sih persisnya?
   Di Vietnam misalnya. Pemerintah setempat, ungkap Dang Nhat Minh mendukung perfilman nasional. "Kita memiliki 600 layar dari sekitar 200 bioskop yang ada di seluruh.  80 % diantaranya didominasi oleh film Hollywood, " tuturnya.
   Fenomena serupa juga menimpa Filipina. “Sekitar 90% film di bioskop-bioskop Filipina dikuasai oleh film-film asing, terutama produksi Hollywood," keluh Miguel De La Rosa. Namun dia masih bisa bernapas lega karena pemerintah memberikan kebebasan penuh kepada sineas untuk berekspresi.
   Sebagai solusinya banyak sineas yang bergerak di bawah tanah dan menjalankan konsep indie dalam berkarya. “Hasilnya, tentu akan lebih memudahkan dalam produksi dan distribusi,” seloroh Chito S Rono.
   Esok harinya, 17 November, digelar serangkaian seminar. Salah satu pembicara utama yang patut disimak adalah Donna Smith, mantan Vice President Universal Studios. Orang di balik munculnya film macam The Matrix, Raging Bull, The Schindler’s List hingga Crouching Tiger Hidden Dragon ini mengungkapkan tips kecil dalam membuat film. “Membuat film adalah  perkara membuat hiburan,” begitu kredonya kepada hadirin yang hadir. Berikutnya, tema-tema yang diusung seputar pembiayaan serta lokasi film di kawasan Asia Tenggara.
   Selain seminar, juga digelar pemutaran film yang berlangsung di bioskop Galeria 21. Film tersebut merupakan pilihan dari negaranya. Masing-masing adalah  Zaw Ka Ka Nay Thi (Myanmar), Only Love (Laos), Di Bawah Lindungan Kabah (Indonesia), Emir (Filipina), Don’t Burn (Vietnam), Memoir Seorang Datuk (Brunei), Kiles (Kamboja), Tatsumi (Singapura), Eternity (Thailand) dan Bunohan (Malaysia).
   Saking padatnya jadwal, para jurnalis hanya sempat nonton satu judul film, yakni Only Love, sebuah kisah khas negara agraris. Ceritanya seorang sarjana pulang kampung mengamalkan ilmunya. Ternyata usahanya tersebut mendapatkan saingan dari usahawan lokal, supplier alat pertanian. Selebihnya tak mungkin disimak. Kami sudah kadung check out dari hotel. Padahal beberapa wartawan sudah kebelet mau nonton film Malaysia yang katanya siap diputar di 50 negara.  
   Bagaimana nasib festival ini di masa mendatang? Saat dicegat usai nonton di bioskop Galeria 21, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu menyebut bahwa ajang ini seharusnya digelar tahunan. “Harusnya sih annually ya…” Selanjutnya dia berharap kelak akan  muncul kerjasama lebih jauh sesama negara anggota ASEAN. “Mungkin nanti akan dipikirkan ide-ide untuk distribusi film bersama…” tambah Mari lagi.**

Kamis, 24 November 2011

Antv suguhkan 6 program hiburan baru yang variatif

Pengisi acara dan jajaran direksi dan produksi Antv. (foto: sutrisno boeyil)
STASIUN televisi Antv menyuguhkan enam program terbarunya pada November ini. Acara perkenalan program berlangsung di lobby Antv Epicentrum Studio, Jakarta, Rabu (23/11) siang itu menghadirkan seluruh pendukung acara dari ke-6 program, serta jajaran direksi dan produksi Antv. "Kami berkomitmen memberikan acara yang menghibur penonton," ungkap Hetty Purba Wakil Direktur Produksi Antv.
   Keenam program terbaru Antv tersebut terdiri dari program kuliner, quiz, talkshow, dan komedi yaitu Resep Warisan (tiap Selasa pukul 09.00), Mister Laper (setiap Senin pukul 09.00), Srimulat Junior (setiap Jumat pukul 09.30), Layar Lebay (tiap Senin pukul 20.30), Friends (Senin-Jumat pukul 08.00), dan Deal Or No Deal (Rabu sampai Jumat pukul 20.00).
   Pada kesempatan launching program tersebut, kelompok Srimulat Junior menunjukkan gaya mengocok perut, dengan membawakan sebuah sketsa komedi di depan para wartawan. Mereka terdiri dari 10 personel hasil audisi acara 'Srimulat Cari Bakat' yang diadakan Antv pada April 2011. Para personel Srimulat Junior adalah Meo, Barlin, Friyan, Sarip, Mamad, Amin, Agus, Mamit, Sarju dan Vicha.
   Pengisi program Friends adalah trio Uli Herdiansyah, Indra Herlambang, dan Cut Tari. Ketiganya dihadirkan karena dianggap memiliki karakter yang cocok untuk 'membahas' berbagai fenomena yang dimunculkan di setiap episode. "Pertemanan kami sangat akrab, tidak hanya sebatas di dalam program. Hal ini yang membuat obrolan kita langsung nyambung di acara ini," kata Indra Herlambang.
   Sementara Otis Hahijary selaku Direktur Program mengatakan, pihaknya sempat berdiskusi cukup keras ketika akan menghadirkan program Fiends. "Setelah melihat beberapa kali penampilan Cut Tari di televisi lain, kami yakin kehadirannya masih dirindukan penonton. Tetapi, tidak mudah mengeksekusi program ini, dan kami secara intenal harus berdebat cukup keras membahasnya," ungkap Otis, tentang program yang menghadirkan Cut Tari, yang sempat tersandung kasus video porno dengan grup band Ariel Peterpan.
   Secara konsep program Friends mengangkat pertemanan Indra, Uli dan Cut Tari. Mereka membahas apapun fenomena berdasarkan 'selera' masing-masing yang berbeda. "Konsep Friends bukan talkshow tapi format 'magazine' dan justru yang jadi player diantara mereka adalah Indra. Target penonton program ini adalah housewife," kata Otis.     
   Deddy Corbuzier mengungkapkan, dirinya sangat ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari program Deal Or No Deal. "Program ini sudah pernah ada, dan saya sangat ingin memberi sesuatu yang berbeda. Ini merupakan tantangan buat saya," kata Deddy, tentang program yang menghadirkan 4 orang kontestan untuk memilih 'koper duit' yang ditawarkannya di setiap episode.
   Seluruh program tersebut didukung peralatan syuting digital yang dimiliki Antv. "Kami berharap 6 program baru ini benar-benar menghibur pemirsa keluarga Indonesia dengan hiburan yang bermutu. Apalagi semua peralatan kami sudah digital sehingga gambar dan suara yang diterima pemirsa Antv semakin baik," ujar Dudi Hendrakusuma selaku Presiden Direktur Antv, dalam siaran pers Antv. (tis)

Rabu, 23 November 2011

Televisi semakin permisif terhadap artis bermasalah

TELEVISI penyaji acara entertainment semakin permisif bagi para pelanggar kesusilaan dan tidak responsive pada nilai-nilai yang masih dijaga oleh masyarakat, terutama penonton. Demikian dikatakan oleh Ketua Forum Penonton Film (FPF), Teguh Imam Suryadi SH ketika ditanya tentang fenomena kemunculan sejumlah artis bermasalah di televisi.
   “Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa ketika menyaksikan artis yang seharusnya menerima sanksi moral dihadirkan seolah tak pernah terlibat kasus,” kata Teguh Imam Suryadi, kepada tabloid Kabar FILM, kemarin di Jakarta.
   Situasi tersebut menurut Imam, sangat disayangkan karena televisi memiliki fungsi yang sangat ideal, yakni selain memberi edukasi juga menghibur. “Dengan menampilkan artis-artis bermasalah sebenarnya merugikan stasiun televisi, karena akan muncul sikap antipasti masyarakat terhadap program yang dibawakan si artis,” ujarnya.
   Forum Penonton Film didirikan Teguh Imam Suryadi sejak tiga tahun lalu itu, merupakan lembaga nirlaba yang secara regular mengadakan kegiatan diskusi untuk mengkritisi dan mencari solusi bagi dunia tontonan, mulai dari film, sinetron, dan televisi secara umum.  “Sampai saat ini, anggota FPF sudah lebih dari 300 orang dari berbagai kalangan,” ungkap Imam, yang juga seorang wartawan itu.
    Dikatakannya, televisi yang kerap menghadirkan artis bermasalah secara perlahan akan ‘ditinggalkan’ penontonnya. “Secara hitungan bisnis, mungkin kehadiran artis  bermasalah sangat marketable atau menjual. Ini akan bisa menaikkan rating program. Namun, hakikatnya situasi ini memperlihatkan ketidakberpihakan televisi terhadap penontonnya,” jelas Imam.
   Seperti diketahui, beberapa artis yang terlibat dalam video mesum dengan pentolan grup band Peterpan, belakangan muncul dengan wajah ‘tanpa berdosa’ di dalam program-program televise tertentu. Selain artis pelanggar kesusilaan, sejumlah pesohor pengguna narkoba juga dimunculkan oleh televisi sebagai sosok ‘pahlawan’.
   Pengamat dunia televisi Eddie Karsito mengomentari mudahnya televisi menerima artis bermasalah, dengan mengatakan, “Semakin bermasalah si artis, maka eksposure-nya bertambah. Stasiun televisi berebut menjadikan si artis ‘idola baru’. Karena memang hal itulah yang dianggap dapat meningkatkan jumlah penonton dan meningkatkan rating,” ungkap Eddie Karsito, yang juga pendiri Humaniora Foundation.
   Eddie Karsito menambahkan, ia sempat mendengar kabar artis Cut Tari yang tersinggung ketika ditanya wartawan mengenai keterlibatannya di program salah satu sitasiun televisi. Saat jumpa pers tentang program terbarunya itu.
  “Sebaiknya dia (Cut Tari) tidak marah dan mengintimidasi wartawan yang bertanya supaya berdiri. Itu sebuah sikap yang tidak simpatik, selain justru member kesan semakin tidak bersahabatnya dia pada wartawan yang merupakan representasi dari masyarakat,” ungkap Eddie Karsito.   
   Seperti diketahui, sejumlah media memberitakan marahnya artis Cut Tari kepada seorang wartawan yang mempertanyakan kehadirannya kembali ke dunia televisi. Si wartawan kritis bertanya dengan mengkaitkan kasus VCD porno yang melibatkan dirinya dengan Ariel Peterpan. (kf2)

Keindahan Lombok mulai dilirik pembuat film


Rumah Adat Suku Sasak di Lombok
SEJUMLAH kawasan wisata di tanah air semakin mendapat tempat di kalangan pembuat film. Tidak hanya dari dalam negeri, juga produser film Hollywood, Rob Allyn pun memanfaatkan keindahan alam nusantara di Candi Borobudur untuk syuting film Java Heat. Sebelumnya, film Eat Pray Love mengambil lokasi di Bali. 
   Bahkan, tahun depan Rob Allyn akan membikin film bernapaskan budaya dan kepariwisataan Indonesia-Amerika dengan lokasi syuting di Lombok, NTB. "Saya bangga bisa membuat film di sekitar Candi Borobudur, Jateng, juga syuting di beberapa tempat penting di Yogyakarta, termasuk Kesultanan Yogya. Tahun depan saya akan kembali ke Indonesia. Saya punya impian membikin film di Lombok. Negeri Lombok surga baru buat saya," kata produser itu ketika didampingi sutradara Conor Allyn menggelar jumpa pers film Java Heat di Yogyakarta baru-baru ini.
   Pemda Lombok sendiri, seperti diutarakan Drs Muhammad Nasir, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat, senang sekali jika daerah Lombok dan daerah lainnya di NTB dijadikan lokasi syuting baik film Indonesia maupun asing.
   Muhammad Nasir mengakui pesona alam NTB sangat unik dan menarik. Di Lombok, misalnya, pesona itu tidak saja berupa panorama alamnya yang eksotis di darat dan di laut, tetapi juga keunikan seni dan budayanya. Keberadaan suku Sasak yang dikenal punya daya tarik aneka tarian telah memberi inspirasi bagi sutradara dan produser film asing untuk membuat film di Lombok dan daerah lainnya di Nusa Tenggara Barat.
   "Kami akan dengan senang hati menjamu tamu para sutradara dan produser asing maupun Indonesia yang akan bikin film di NTB. Raja Dangdut Rhoma Irama baru saja beres bikin film di Lombok. Masyarakat membantunya hingga Rhoma ketagihan ingin syuting di Lombok lagi dalam cerita film yang baru," tutur Muhammad Nasir kepada para wartawan peserta Press Tour Pusat Komunikasi Publik di Cafe Montong, Senggigi, Minggu lalu.
   Rhoma Irama saat membuat film Sajadah Ka'bah di Lombok, mengakui pesona alam Lombok luar biasa menarik. "Lokasi syuting film di Lombok semuanya menarik. Makanya, saya sudah menyiapkan cerita film yang lain untuk syuting di Lombok, terutama di sekitar Pantai Kute, Taman Narmada, dan beberapa tempat lain termasuk panorama alam sepanjang Pantai Senggigi," ujar Rhoma.
   Raja Dangdut ini juga mengakui kecantikan pesona seni budaya yang hidup di tengah perkampungan desa adat Sasak, Dusun Sade, Rambitan, Lombok. Selain ada tarian gendang baleq, warga Dusun Sade juga memiliki beragam tarian khas yang tak kalah uniknya dengan tarian rakyat lainnya di Sumbawa, Bima, dan daerah lainnya di NTB.
Pantai Tanjung Aan di NTB-Lombok
   "Kami selalu berpesan kepada produser dan sutradara film, jika ingin bikin film di Lombok, NTB, usahakan kegiatan itu bisa menguntungkan masyarakat setempat. Misalnya, membeli buah-buahan atau makanan tambahan dari masyarakat setempat. Bisa juga memanfaatkan kesenian khas atau melibatkan warga setempat sebagai tenaga kerja. Alhamdulillah, ketika Rhoma Irama bikin film di Lombok baru-baru ini, beliau menggunakan banyak warga Lombok sebagai pekerja harian. Juga membeli banyak kelapa muda, mangga, durian, manggis, dan bahkan memesan makanan dari warga Lombok," tutur Muhammad Nasir lagi.
   Kini sejumlah lokasi di NTB yang memiliki beragam pesona alam pegunungan, pantai, dan seni budayanya, terus dirawat masyarakat setempat. Lembaga adat Sasak seperti yang ada di Dusun Sade juga menata daerah lingkungan mereka agar senantiasa tampil unik. Setiap rombongan tamu yang berkunjung ke desa adat itu disuguhi aneka tarian persahabatan. Suasana itulah yang memberi inspirasi para sutradara dan produser film asing menjadikan dusun adat Sasak di Sade menarik sekali difilmkan. (kf1)

Aline Jusria sutradarai film 'Kentang'

Aline Jusria (foto: dudutsp)
PROYEK omnibus film Sanubari Jakarta memasuki produksi keempat berjudul Kentang berlangsung 11 November 2011. Tidak banyak waktu bagi Aline Jusria sang sutradara, untuk mengemas naskah racikan Laela tersebut ke dalam beberapa scene. "Jadinya nanti hanya 10 menit, dan ini benar-benar film yang gak penting menurut aku," kata Aline dalam obrolan sore dengan tabloid Kabar FILM, saat break syuting.
   'Gak penting' kenapa harus repot-repot dibuat? "Justru karena bagian film yang aku bikin ini tidak penting, maka aku mau bikin. Karena, bagian lain proyek omnibus film ini sudah bicara hal-hal penting," lanjut perempuan, yang sedang hamil ini.
   Penyandang Editor Terbaik pada FFI 2010 ini merupakan salah satu, dari beberapa sutradara yang bergabung dalam proyek film 'Sanubari Jakarta' yang diproduksi Lola Amaria di bawah Kresna Duta Foundation. Seluruhnya, akan ada 9 judul tema di dalam film tentang isu lesbian, gay, bisex, dan transgender tersebut.
   Secara teknis produksi, Aline mengaku belum pernah membuat film untuk format bioskop. Hanya ketika ujian akhir di IKJ sekitar 2003 dia pernah membuat film. "Ini film pertamaku untuk bioskop," ujar Aline. Selebihnya, dia memang pernah garap video-klip dan melakukan tugas sebagai editor gambar. Ia pun menyebut nama Lola yang memberi 'pengarahan' jika dibutuhkan sampai dia bisa jalan sendiri.
   Soal keterlibatannya di proyek omnibus ini, dia bilang awalnya diajak oleh Lola Amaria. Tawaran itu sempat ditolaknya. "Akhirnya aku minta opsi men-direct film yang gak repot. Yang goblok-goblokan saja seperti ini," kata Aline yang sedang mempersiapkan diri untuk proyek mengedit film Republik Twitter dan Cinta Mati.
   Untuk garapan pertamanya ini, Aline dibantu beberapa kru dan kamera 5D dan 7D. Sebuah kamar rumah di kawasan Cipete-Jakarta Selatan, disulap menjadi ajang eksplorasi para pemainnya, yaitu Gia dan Havest. Keduanya memerankan gay, penyuka sesama lelaki.
Sempat Aline mengajak Vino G Bastian untuk memerankan salah satu gay. "Dia sudah mau ketika baca naskahnya, tetapi terbentur skedul sehingga diganti dengan pemeran lain," katanya.
   Dengan pertimbangan durasi film yang hasilnya akan 10 menit, proses syuting pun dilakukan dalam dua scene dengan pembagian per squence. "Hampir semua adegan ngobrol di dalam kamar. Sisanya ada di lorong samping rumah," jelasnya. Meski jago ngedit, Aline akan menyerahkan karyanya itu pada editor lain agar hasilnya akan berbeda lagi.
Syuting 'Kentang' (foto: dudutsp)

Obrolan satu malam
Cerita Kentang adalah tentang dua laki-laki gay, yang sedang ngobrol di malam hari. Perbincangan di malam yang ditunggu-tunggu itu, ternyata tak membuahkan 'hasil' apapun sampai akhirnya mereka berpisah setelah bertengkar. Ada saja gangguan ketika mereka akan mulai beraksi. Kisah satir ini lebih menonjolkan sisi dialog para pemainnya.
   "Flm ini berkisah tentang sesuatu yang biasa saja terjadi pada setiap manusia dewasa. Tidak harus kaum gay, tapi bisa dirasakan setiap orang normal sekalipun. Problemnya sama. Tetapi, unsur yang diangkat di sini justru dialog-dialognya yang kuat," ungkap Aline.
Soal judul 'kentang' itu merupakan singkatan; kena tanggung. (kf1)  

Selasa, 22 November 2011

Menteri Marie E Pangestu tinjau Sinematek Indonesia

(foto: dudutsp)
MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) DR Marie Elka Pangestu meninjau Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) didampingi Dirjen NBSF Drs Ukus Kuswara MM, dan Direktur Film Drs Syamsul Lussa MA, Senin 21 November 2011. Pada kesempatan tersebut juga diadakan pertemuan dengan pimpinan organisasi perfilman.
   Kehadiran Marie E Pangestu untuk pertamakali ke PPHUI langsung menuju ruang penyimpanan film-film lawas di lantai dasar gedung. Di ruangan berisi ribuan film nasional dan asing ini, Menteri bersama rombongan didampingi Kepala Sinematek Berthy Ibrahim Lindia, dan Ketua Yayasan PPHUI H Djonny Sjafruddin SH.
   Pada pertemuan sekaligus perkenalan itu, Menparekraf mendengar berbagai persoalan yang ada di lingkungan organisasi perfilman Indonesia. Seperti diketahui bahwa di PPHUI terdapat sejumlah organisasi perfilman yang berkantor di gedung yang pembangunannya diprakarsai almarhum Ali sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta 1966-1977.
   Salah satu persoalan yang mendesak sekarang ini, menurunnya animo masyarakat menonton film Indonesia.”Kami sendiri bingung di mana salahnya. Sejak bulan Juli untuk mendapatkan 200 ribu penonton saja sangat sulit. Malah ada film yang hanya ditonton oleh sekitar 3000 penonton,”ujar Gope Samtani, salah satu Ketua Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI).
   Data terbaru, bahkan film 'The Mentalist' hanya disaksikan tak lebih dari 1000 penonton.
   Untuk itu menteri berjanji akan mendiskusikanya dengan para steakholder perfilman Indonesia. ”Selain secara lisan sebaiknya ada tulisan mengenai data persoalan agar bisa kita sama-sama cari solusinya. Harus dengan data yang akurat dan persoalan yang otentik. Karena kalau tidak dengan data agak sulit mencari ukuran penyelesaiannya,” ujar Marie.
   Dalam pertemuan itu hadir sejumlah pimpinan organisasi perfilman seperti PARFI, PWI Jaya Seksi Film dan Budaya, Senakki, GPBSI, GASFI, Perfiki, KFT, Sinematek, PPFI, dan AINAKI serta organisasi lainnya yang ingin curhat singkat dan meminta waktu bertemu untuk mengatasi persoalan yang mereka alami. Menteri yang baru menggantikan Jero Wacik itu bersedia menyediakan waktu untuk bersama-sama memecahkan persoalan dan memajukan film Indonesia.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu dan para
pimpinan organisasi perfilman (foto: dudutsp)
   Ketua Seksi Film dan Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya Teguh Imam Suryadi menjelaskan bahwa PWI khususnya bidang Film dan Kebudayaan dengan perfilman Indonesia tidak bisa dipisahkan. Haji Usmar Ismail sebagai bapak perfilman Indonesia adalah seorang wartawan. ”Sampai kapan pun kami akan mendukung dengan perbuatan nyata agar film Indonesia bertambah jaya,” ujar Imam, yang pada kesempatan itu menyampaikan kekecewaan teman-teman wartawan yang meliput kegiatan film, tidak diikutsertakan pada Festival Film ASEAN dalam rangka KTT ASEAN, baru-baru ini di Bali.
   ”Padahal sebelumnya kami diminta menyusun daftar wartawan untuk meliput kegiatan AFF, tapi ternyata kami tidak diberangkatkan tanpa alasan yang jelas. Sementara, ada pihak dari Kemenparekraf yang menginformasikan bahwa daftar nama-nama wartawan yang saya buat sudah dibookingkan tiketnya. Artinya, kami siap diberangkatkan tetapi tidak berangkat. Ada yang menipulasi data wartawan tersebut,”ujar Imam. (kf2)

Minggu, 20 November 2011

Nonton bareng 'Rumah Tanpa Jendela' di Aceh dan Medan

DIREKTORAT Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film (Dirjen NBSF) Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata melalui Unit Pelaksana Tugas (UPT) Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Kota Banda Aceh memfasilitasi sebanyak 300 siswa mengikuti kegiatan nonton bareng film Rumah Tanpa Jendela (RTJ) yang dilaksanakan pada Kamis (10/11) di Banda Aceh dan Sabtu, di Medan.
 Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Kota Banda Aceh (12/11) Djuniat S.Sos mengatakan, kegiatan nobar RTJ ini ditujukan dalam rangka menjadikan film-film yang bernilai positif bagi anak-anak menjadi tuan rumah bagi bangsa sendiri.
 ”Tujuan utamanya, untuk membangun dan mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa yang edukatif,” kata Djanius kepada wartawan.
 Melalui kegiatan ini, lanjutnya, diharapkan anak-anak yang menonton bisa menerima manfaat film anak sebagai media pembangunan karakter bangsa. ”Penanaman budi pekerti sesuai dengan nilai-nilai budaya merupakan program kita di Balai Pelestarian Sejarah,” jelasnya.
 Diterangkan, UPT Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional merupakan unit pelaksana Program Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbupar) Pusat.
 Unit ini, lanjut Djuniat, merupakan salah satu dari 5 Direktorat Jenderal (Dirjen) Budpar yang ditempatkan di daerah-daerah yang mencakup Wilayah Kerja Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
 ”Ada dari 33 Unit Pelaksana Tugas yang tersebar di 33 propinsi di Indonesia dengan program yang beragam dan variatif, jadi bukan film melulu,” paparnya.
 Dalam kesempatan yang sama, sutradara RTJ Aditya Gumay didampingi Produser dan penulis naskah Adenin Adlan menyebutkan, kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari di Banda Aceh dan Medan ini, kegiatan ini merupakan undangan yang sangat positif dari pihak UPT Balai Pelestarian Sejarah. ”Kami merasa sangat bangga mendapat undangan kehormatan seperti ini, walaupun film ini sudah selesai tayang di bioskop dan sudah tayang di televisi,” jelas Aditya.
 Kendati demikian lanjut Aditya, pihaknya patut mensuyukuri, film RTJ masih dapat dipromosikan oleh banyak pihak sebagai media pendidikan dan penanaman nilai budaya.
 Diterangkan, saat ini Smaradhana Pro sedang mempersiapkan sedikitnya 10,000 DVD  yang akan siap untuk didistribusikan. ”Kita akan menjalin kerjasama dengan sekolah formal dan lembaga pendidikan yang menjadikan film anak sebagai media pendidikan,” ujarnya.
 Kegiatan nobar RTJ merupakan pertama kali di gelar di wilayah Aceh dan kedua kali di Medan, setelah pertama kali digelar oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) bekerjasama dengan Abah Production, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pujakesuma dan Tabloid Kabar Film di Medan, Sabtu, 10 April silam yang diikuti lebih dari 700 penonton dari Pemkab Sergai, kalangan pelajar dan komunitas film anak, khususnya. (jufri ba)

Meidhita menyerap ilmu sulap dari film

Meidhita (foto: dudutsp)
PEMERAN film The Mentalist Meidhita Badawijaya pernah takut pada penampilan Deddy Courbuzier, yang menjadi ayahnya di film tersebut. "Muka Deddy Corbuzier menyeramkan dan membuat saya takut waktu kecil," kata Dhita ketika ditemui di acara pemutaran perdana film tersebut di Pondok Indah Mall, Jakarta baru-baru ini.
   Namun pandangan Dhita pun berubah saat dipertemukan dengan Deddy dalam sebuah film layar lebar. "Ternyata gambaran saya tentang Deddy jauh banget. Aslinya, dia orang baik dan suka humor juga. Menurut saya, dia pribadi yang menyenangkan," katanya.
   Pelajar home schooling kelahiran Samarinda 28 Mei 1996  ini mengatakan, Selain bermain dengan Deddy, Ditha pun berkesempatan kenal dengan magician Fakir, dan Limbad yang jarang berbicara. Melalui perkenalan-perkenalan itulah, Ditha banyak menambah pengalaman. Wawasan Dhita seputar ilmu sulap pun lebih terbuka, tidak sebatas di dunia akting saja. Pasalnya, Dhita diajari beberapa trik sulap.
   Di film The Mentalist, Dhita berperan sebagai anaknya Deddy. Karena bapaknya diceritakan sebagai magician, Ditha yang memeran tokoh Jane akhirnya belajar sulap juga. "Lumayan pengetahuan aku terhadap sulap jadi bertambah. Sekarang aku bisa membengkokan sendok. Aku senang sekali bisa mengenal magician. Ternyata orang-orang semacam Deddy dan Limbad sering juga becanda," kata Dhita.
   Sebelum berakting di film, Ditha sering berperan di sinetron dan FTV. Di antara peran yang mengesankan, yakni saat bermain di  Ande Ande Lumut dan Putri Malu. Menurut Ditha, keterlibatannya di film layar lebar, sedikit banyak dipengaruhi oleh sutradaranya. Sutradara yang menggarap The Mentalist sudah dikenal sebelumnya saat menggarap FTV. (kf1)

Piet Pagau lari dari RS demi casting

Piet Pagau (foto: dudutsp)

AKTOR senior Piet Pagau eksis sejak masa keemasan perfilman nasional tahun 1980-an hingga kini. Saat perfilman nasional mengalami masa paceklik di tahun 1990-an, Piet Pagau tetap bertahan dalam dunia akting melalui jalur sinetron.  Pria berkarakter keras ini dilahirkan di Dusun Batu Raya Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pada 23 Februari 1951. Sudah puluhan film ia perankan sejak ia memutuskan menanggalkan statusnya sebagai staf kantor kecamatan.
    Di tengah ramainya pemeran muda di layar lebar, Piet Pagau tak surut langkah.  Ia masih mendapat kesempatan tampil di sejumlah film seperti Hantu Bangku Kosong (2006), Leak (2007), Kuntilanak 2 (2007), The Shaman (2008), 3 Pejantan Tanggung (2010), Lost in Papua (2011), dan Batas (2011).
   “Saya orang yang beruntung. Kehadiran saya di film bisa sampai hari ini karena keberuntungan, dan tentu saja semangat profesionalisme,” kata Piet Pagau saat ditemui Tabloid Kabar Film di acara “Kirab Gong Perdamaian Dunia” di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang baru-baru ini.
   Menjadi pekerja film, menurut Piet Pagau merupakan pilihan hidupnya. Dia sempat merasakan gajian antara tahun 1971-1976, ketika menjadi staf kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu. “Saya tidak puas dan protes ketika mendapat jatah beras lebih kecil dari tentara. Waktu itu, tentara dapat 18 kg dan saya mendapat jatah beras 10 kg. Apa bedanya perut tentara dan PNS? Lalu saya memutuskan berhenti jadi PNS,” ujar lulusan APDN ini.
  Beruntung tak lama sejak berhenti jadi PNS, Piet Pagau mendapat kesempatan terlibat dalam film Mandau dan Asmara (1976) sekaligus menjadi debutan pertamanya di dunia akting. Kendati belum pernah belajar akting, sutradara Young Indrajaya menerima Piet Pagau saat ikut casting dan berlanjut syuting di Pontianak.
   Satu hal yang masih sangat diingat oleh Piet Pagau, adalah ketika pertamakalinya dia berkenalan dengan dunia film.
   “Saya mendengar percakapan orang-orang di rumah sakit bahwa akan ada syuting film di Pontianak. Ketika itu saya sakit dan dalam perawatan, sempat lari dari rumah sakit untuk ikut casting. Setelah casting, saya kembali ke rumah sakit,” kenang Piet Pagau, yang divonis hanya bisa bertahan hidup sebulan karena sakit kuning.
    Sebagai orang yang pernah menjadi PNS, Piet Pagau juga aktif dalam berbagai kegiatan antaranya organisasi profesi Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dan Partai Demokrat sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai DPP Partai Demokrat Kalimantan Barat. Tahun 2002, dia sempat mencoba ikut dalam bursa calon gubernur Kalbar periode 2003-2008. (tis)  

Kamis, 10 November 2011

Hong Kong Filmart 2011: Jalan RI tembus Asia

KOTA Wan Chai, Hong Kong baru saja berdenyut. Senin pagi sekitar pukul 09.00 waktu setempat, suhu udara menunjukkan angka 21 derajat celcius. Kesibukan kecil terlihat di gedung Hong Kong Convention and Exhibition Centre tempat digelarnya Hong Kong International Film & TV Market (Filmart) 2011, dimana Indonesia menjadi bagian dari event berskala internasional tersebut.
   Beberapa petugas pameran yang dikoordinir organisasi Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) yang pada hari sebelumnya sudah menata boots seluas 54 m2, pagi itu melakukan filnal touching, sebelum pameran dibuka tanpa melalui acara seremonial. “Tinggal menyiapkan trailer, menempel beberapa poster film dan menyiapkan permen untuk cemilan para pengunjung,” ujar Evi Hapiah sekretaris  PPFI  ketika dijumpai Kabar Film di  stand pameran. 
   Ada 33 Negara peserta dalam event ke-15 yang digelar (mulai 21-24 Maret 2011)  oleh negara para jawara kungfu itu. Indonesia sendiri baru menjadi peserta yang keenam kalinya. Masing-masing negara peserta menampilkan gaya dekorasi stand pameran berbeda, termasuk stand Indonesia yang menghadirkan wayang golek tokoh Rama Shinta, dan Cepot.
   Ditampilkannya tokoh-tokoh wayang di stand Indonesia ini cukup menarik perhatian sebagian besar pengunjung pameran. Mereka kerap terhenti saat melintasi gerai Indonesia dan mengucapkan kekagu-man pada keunikan wayang golek.
   “Boneka yang unik dan spesial,” ungkap seorang pengunjung wanita berkulit kuning bermata khas sipit, ketika menyambangi stand Indonesia di pagi itu. Ia bersama dua rekan lainnya sempat memotret dan mengamati wayang, sebelum melihat-lihat puluhan artikel promosi film Indonesia. Hal serupa ju-ga dilakukan oleh pengunjung dari berbagai negara lainnya.
   Sejumlah produser pengurus PPFI di pagi hari pertama pameran itu menyambut para tamu yang hadir. Mereka adalah Gope Samtani (Rapi Films/Kabid Produksi) kepala delegasi Indonesia, HM Firman Bintang (BIC Production/Ketua Umum), Ody Mulya Hidayat (PT Maxima Pictures/Sekjen PPFI), Harry Simon (PT Jatayu/Bendahara), Chand Parwez (PT Kharisma Starvision/ Kabid Tata Edar), Sunil Samtani (PT Rapi Film/Wkl Bendahara), Manoj Punjabi (PT MD Entertainment/Kabid Festival dan Luar Negeri).
   Peserta dari Indonesia tak hanya anggota PPFI, tapi perusahaan  lain seperti PT Pic[k]Lock yang diwakili sutradara sekaligus artis pemeran film Minggu Pagi  di Victoria Park, Lola Amaria, dan PT Kojo Anima di-wakili produser Andriansyah. Perusahaan terakhir ini merupakan pe-serta mandiri (biaya sendiri) yang mewakili perusahaan film animasi satu-satunya dari Indonesia.
   Seluruh film Indonesia yang disertakan dalam Hong Kong Filmart 2011 berjumlah 24 judul dari 10 perusahaan film yaitu Pengantin Pantai Biru, Kalung Jaelangkung, Pocong Rumah Angker, Akibat Pergaulan Bebas, Love Story, Kabayan Jadi Milyuner, Virgin3, Air Terjun Pengantin, Jenglot Pantai Selatan, Love in Perth, Nakalnya Anak Muda, Ayat Ayat Cinta, Emak Ingin Naik Haji, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Rindu Purnama, Little Obama, Sang Pencerah, Goyang Kerawang, Pocong Jumat Kliwon (judul diubag Evil Rises), Taring (Dark Forest), Pocong Ngesot (Un Invited), Minggu Pagi di Victoria Park, dan Lost In Papua.
   Stand pameran Indonesia bersebelahan dengan stand Malaysia. Untuk kenyamanan pengunjung dan calon pembeli, ruangan pameran dilengkapi tivi monitor besar untuk memutar trailler film, rak tempat artikel serta booklet promosi film dan lokasi wisata yang dibagikan gratis, partisi untuk men-display poster film, serta empat set meja kursi.

Pembuka jalan menuju Asia
Hong Kong Filmart merupakan ajang pemasaran produk film dan televisi dari seluruh dunia, yang diselenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council. Negara peserta kali ini  selain Hong Kong sebagai tuan rumah, adalah Amerika, Inggris, Jerman, Indonesia, Jepang, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Israel, India, Belanda, Italia, Arab Saudi, Korea, Polandia, Ukraina, Cina, Turki, Perancis, Finlandia, Rusia, Taiwan, Philipina, Austria, Australia, dan Kanada.
   Bagi Indonesia, kesertaan pada event Hong Kong Filmart memiliki arti dan target tersendiri. Hal itu dikatakan Plt Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Drs Ukus Kuswara MM,  ketika menyambangi stand pameran.
   “Pemerintah Indonesia memfasilitasi keikutsertaan film-film Indonesia di sini, untuk seluruh film Indonesia. Tujuannya, selain untuk menjaga eksistensi perfilman juga memperkenalkan kawasan Indonesia yang layak untuk dijadikan lokasi syuting film internasional,” kata Ukus Kuswara kepada Kabar Film di Hong Kong, Senin (21/3/2011).
   Selain memperkenalkan film Indonesia di luar negeri, secara khusus keikutsertaan Indonesia di Hong Kong Filmart sebagai batu loncatan untuk memasuki pasar di wilayah Asia. 
   “Kita harapkan, Hong Kong akan  menjadi pembuka jalan bagi produk film Indonesia untuk masuk Asia,” kata Ukus Kuswara yang hadir didampingi Direktur Perfilman Drs Syamsul Lussa MA. 
   Dibandingkan negara lainnya, Indonesia termasuk yang cukup banyak mempresentasikan film-film horor di ajang ini. Menurut Gope Samtani, film horor Indonesia memiliki keunikan dari negara lain. "Masyarakat luar menyukai film horor kita, karena unik dan tidak ada di film-film horor lain di negara manapun," kata Gope Samtani, tentang kesertaan sejumlah film bertema horor pocong yang kerap dipertanyakan oleh kalangan tertentu di tanah air.
   Pada kesempatan lainnya, produser yang juga Ketua Umum  PPFI HM Firman Bintang mengatakan, film nasional berangkat dari semangat dan misi untuk menghibur. "Sejarah mencatat, film Indonesia awalnya alat hiburan, dan baru setelah itu film menjadi media perjuangan dan idealisme lainnya. Jadi, intinya film memang harus bisa menghibur masyarakat," kata Firman Bintang dalam obrolan  ringan di Hotel Rosedale, Hong Kong tempat menginap delegasi Indonesia. 
   Sementara, Lola Amaria menilai partisipasi Indonesia di Hong Kong Filmart merupakan persentuhan film nasional dengan dunia luar. "Sebagai media promosi, event ini cukup penting. Tapi sebaiknya me-mang ada evaluasi, agar kita benar-benar tahu jenis film Indonesia, yang disukai pembeli internasional," ujar Lola Amaria. 
   Selama tiga hari pameran digelar, tidak ada transaksi jual-beli film. Ini memang hal yang lazim menurut Gope Samtani. “Transaksi biasanya akan dilakukan oleh masing-masing pihak produser setelah pameran selesai. Di tempat pameran hanya terjadi tawar-menawar atau pengenalan produk lebih dulu,” kata Gope Samtani.
   Seminggu setelah pameran, yakni pada 7 April 2011, PPFI melaporkan hasil dari pameran ke Direktorat Perfilman, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang antara lain menunjukkan adanya ketertarikan sejumlah negara terhadap film Indonesia.
   Sebagai catatan, Indonesia tidak menyertakan seluruh film yang di-produksi. Padahal, ada 80-an film Indonesia pada periode 2010-2011.  Hal ini mengindikasikan  kurang terkordinirnya pemberangkatan film-film Indonesia ke pemasaran film di luar negeri. (teguh imam s)

Selasa, 08 November 2011

Pasukan berkuda Parfi iringi Gong Perdamaian Dunia

Ketua Umum Parfi Aa Gatot Brajamusti (kanan) dan Toro Margens (kiri) dalam Kirab Gong Perdamaian Dunia yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah (foto: dudut sp)
SELEPAS adzan dhuhur waktu Semarang, Rabu (8/11) cuaca begitu dinamis. Sebentar panas lalu berubah sejuk, dan kembali panas. Delapan ekor kuda milik Kepolisian Daerah Semarang berjajar di depan Markas Komando Distrik Militer 0733 BS yang terletak di Jalan Pemuda. Hewan-hewan tunggangan yang terlatih itu memang tak lazim berkumpul di sana. Ini hanya salah satu pemandangan dari persiapan acara "Kirab Gong Perdamaian Dunia Solo-Semarang".
   Kesibukan kecil lainnya tampak di Balai Sudirman yang berada di dalam kompleks Kodim 0733. Sejumlah artis anggota Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) diketuai Aa Gatot Brajamusti melakukan briefing, untuk melaksanakan hajat mereka mengiringi Gong Perdamaian Dunia berdiameter 5 meter, yang dikirim dari Solo, Jawa Tengah untuk dibawa ke Bali melalui Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang.
Gong ukuran raksasa itu. (foto: dudut sp)
   "Sesampainya di Tanjung Emas, gong ini akan diangkut ke Bali menggunakan KRI Teluk Cendrawasih. Kami berkoordinasi dengan kepolisian dan TNI AL," ujar Ketua Umum Parfi, Aa Gatot Brajamusti yang juga Pimpinan "Kirab Gong Perdamaian Dunia Solo-Semarang" sesaat sebelum menunggang kuda. Beberapa artis ikut menunggang kuda antaranya Toro Margen, Hans sidardja (Ketua Parfi Semarang), Adenin Adlan, Agus Leo, Firman Nurjaya, Tedi Terangi, dan Piet Pagau. Sementara artis lainnya seperti George Taka, dan sejumlah aktris perempuan naik kendaraan.
   Selanjutnya gong dikirab menuju Pelabuhan yang berjarak sekitar 2 km dari tempat start. Selain pasukan berkuda, ada rombongan motor besar Harley Davidson, voreiders, dan kendaraan pribadi.
   Sementara gong perdamaian dunia yang dibuat 'khusus' berdiameter 5 meter, diangkut naik ke atas truk milik TNI AL. Besarnya gong memacetkan jalan. Ditambah dengan iringan berkuda yang jalan dengan kecepatan tak sampai 7 km/jam, tumpahnya masyarakat yang ingin menyaksikan 'prosesi' kirab gong tersebut.
   Kirab gong perdamaian dunia menjadi penting, karena simbol perdamaian ini -- termasuk Hari Perdamaian Dunia 21 September yang diratifikasi PBB diprakarsai oleh masyarakat Indonesia. "Kita harus bangga dengan prakarsa bangsa Indonesia, yang mengilhami dunia untuk mengadakan Hari Perdamaian Dunia," ujar Direktur Komite Perdamaian Dunia, Mohammad Ridwan Widhiyantoro.
   Gong Perdamaian Dunia (GPD) dibuat pertamakali di akhir 2002 pasca 'Bom Bali-I' oleh Djutoko Suntani (Presiden Komite Perdamaian Dunia) bersama Gde Sumarjaya Linggih (anggota DPR RI), dan beberapa tokoh nasional seperti Esy Darmadi dan Lieus Sungkharisma. Saat ini GPD sudah tersebar di 43 Negara dari 202 negara anggota Komite Perdamaian Dunia.
   "Gong Perdamaian Dunia adalah satu-satunya sarana persaudaraan dan pemersatu umat manusia di dunia. Artis film seharusnya juga berperan dalam sebagai agen perdamaian. Sebagai organisasi yang menaungi artis film, Parfi sangat menaruh perhatian terhadap upaya-upaya membangun persaudaraan antarumat manusia," jelas Aa Gatot, yang sukses menggelar Konser Perdamaian dalam rangka Hari Perdamaian Dunia di Gianyar, Bali 21 September 2011. Alasan itulah yang menurut Aa gatot, pihaknya bersedia menjadi penyelenggara kegiatan Kirab Gong Perdamaian Dunia Solo-Semarang.
   Menurut Aa Gatot, "Untuk menciptakan perdamaian memang tidak mudah, namun harapan itu harus tetap diwujudkan. Kami pun berjuang dan berdoa untuk melakukan kirab gong ini," jelas pemeran dalam film Ummi Aminah, yang kini sedang mempersiapkan produksi film aksi berjudul Ajraq. 
   Selanjutnya, gong ukuran raksasa tersebut akan dibawa ke Bali menggunakan KRI Tanjung Cendrawasih. Di Bali nanti gong akan dipasang di salah satu tempat yang sudah disiapkan oleh panitia setempat. (kf1)

Senin, 07 November 2011

Mari Pangestu: Kemenparrekraf terus fasilitasi film Indonesia

KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong produksi film nasional yang menonjolkan sisi kearifan lokal. Hal itu dikatakan kata Menteri Parekraf Mari Elka Pangestu, Minggu (6/11) malam.
   "Pemerintah akan dorong terus industri perfilman nasional dan menciptakan iklim yang kondusif bagi pariwisata Indonesia. Kita juga akan berusaha untuk memfasilitasi film-film Indonesia," kata Mari usai menonton premier film Sang Penari.
   Menurut Mari Elka, film produksi dalam negeri merupakan salah satu bentuk pengembangan ekonomi kreatif yang sekaligus mengangkat seni dan tradisi budaya daerah bangsa. "Film Indonesia sebenarnya adalah bentuk ekonomi kreatif yang memiliki dampak ganda terhadap promosi daerah serta seni budaya," kata Mari Elka.
   Dia juga mengatakan bahwa film Sang Penari, yang mengangkat cerita kehidupan penari ronggeng dari Banyumas, dapat membawa dampak positif bagi aspek budaya dan ekonomi. "Ini merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian budaya dan tradisi bangsa kita yang patut dikembangkan," katanya.
   Mari menambahkan bahwa adanya film lokal yang mengangkat tentang budaya dan sejarah dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan daerah yang ada di Indonesia.
   "Film Sang Penari dapat menjadi salah satu cara untuk mempromosikan daerah Banyumas. Apalagi saya dengar batik Banyumas, yang tadinya sudah jarang digunakan oleh warga sekitar, kembali dihidupkan dalam film tersebut,l kata Mari Elka.
   Menurut dia, film lokal mengandung aspek budaya, seni tradisi dan budaya bangsa, serta ekonomi yang sangat penting.
Terkait dengan upaya pemerintah yang berencana untuk membiayai produksi film Indonesia, Mari Elka mengatakan pihaknya belum dapat memastikan.
   "Kami dari Kemenparekraf masih perlu mempelajari sejumlah hal terkait berapa jumlah dananya, bagaimana implementasinya, seperti apa kriterianya, dan sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana pemerintah bermitra dengan pihak swasta," kata Mari Elka.
Dia juga menambahkan bahwa semuanya itu tergantung pada jumlah anggaran yang diterima Kemenparekraf pada 2012. (kf2)

Kearifan lokal film 'Sang Penari'


TAHUN 1983 novel karya Ahmad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk difilmkan lewat judul Darah dan Mahkota Ronggeng oleh sutradara Yazman Yazid. Dari novel yang sama di tahun 2011 ini, Ifa Isfansyah membangun cerita lewat judul Sang Penari. Di film sebelumnya, Enie Beatrice memerankan tokoh utama Srintil sebagai ronggeng (penari), kini artis Prisia Nasution memerankan karakter yang sama. Sang Penari hadir membawa pesan baru bagi perfilman nasional karena padat gizi dengan ramuan drama percintaan haru-biru, sedikit gejolak politik, dan terutama karakter bahasa daerah Banyumas, Jawa Tengah yang 'ngapak-ngapak'..
   Selama hampir empat tahun, film yang menghabiskan biaya Rp 10 Miliar ini 'diruwat' oleh trio penulis Shanty Harmayn, Salman Aristo, dan Ifa Isfansyah.  Namun setelah semuanya beres siap putar, sekitar 100 meter gulungan pita seluloid film harus digunting-sambung oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Konon, di area '100 meter' itu terdapat adegan vulgar.
   Film diawali sekilas suasana ketika kaum perempuan desa yang dikurung di ruang gelap-pengap. Kemudian gambar berganti dengan, hadirnya Rasus seorang berpakaian tentara -- belakangan diketahui Rasus adalah pemuda desa Dukuh Paruk -- ke kampung halamannya. Terlihat jelas bekas tapak sepatu tentara di tanah. Hanya ada satu warga yang  tersisa yang bertutur pada Rasus mengenai peristiwa 'penjemputan paksa'  seluruh warga desa oleh aparat, yang membuat seniman penabuh gendang itu terguncang...
  Peristiwa berlatar konflik politik dengan masuknya sebuah partai terlarang di tahun 1960-an itu mengisahkan hubungan cinta antara penari ronggeng bernama Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Oka Antara). Keduanya terikat emosional sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. 
   Dinamika cinta Srintil dan Rasus terjadi pada pertengahan 1960-an. Mereka masih anak-anak tinggal di Desa Dukuh Paruk, Banyumas yang tenang meski kesulitan pangan. Makanan utama adalah gaplek dengan lauk tempe bongkrek. Pada masa itu seorang ronggeng senior 'Nyai Manten' diperankan Happy Salma meregang nyawa bersama belasan warga, termasuk ayah Srintil -- pembuat tempe bongkrek.
  Warga Dukuh Paruk sangat memercayai bahwa menjadi penari ronggeng adalah titisan magis. Dia sangat dipuja sekaligus memiliki tugas berat. Menjadi seorang ronggeng tidak hanya menari di pentas-pentas tari, tetapi juga menjadi milik semua warga Dukuh Paruk. Siapa saja boleh minta dilayani, asalkan memberikan imbalan. 
   Hal itu yang tidak disadari oleh Srintil yang diam-diam terpesona oleh kecantikan dan popularitas Nyi Manten sang ronggeng. Srintil sejak kecil, hanya ingin menari di depan banyak orang seperti Nyi Manten. Namun, cita-cita itulah yang memisahkan dirinya dari kenyataan. 
   Rasus, pria yang sangat dicintainya tidak tega menyaksikan kekasihnya itu menjadi alat pelepas syahwat para lelaki sejak ritual 'buka kelambu' yang diprakarsai dukun ronggeng, diperankan sangat baik olek Slamet Rahardjo dan Dewi Irawan. sebagai prosesi seorang yang ingin menjadi ronggeng. Prosesi ini mewajibkan Srintil melepas kegadisannya pada setiap lelaki yang membayarnya mahal. 
  Dalam pelarian menahan sakit hatinya, Rasus tak disengaja bertemu dengan tentara yang sedang berpatroli. Ia kemudian diminta bergabung dengan korps tentara. Ia digembleng dari pemuda desa ndeso yang tak berdaya, menjadi lebih berkarakter tegas. Namun ia masih terus membayangkan Srintil kekasihnya.
  Sebelum kedatangan Bakar -- diperankan Lukman Sardi -- warga Dukuh Paruh sangat bersahaja. Namun Bakar kerap datang menyelesaikan masalah warga desa yang tak tahu akan dimanfaatkan untuk tujuan politiknya. Ketika politik di tahun 1965 bergolak, seluruh warga desa yang telah loyal terhadap Bakar, dianggap menjadi bagian dari anggota 'partai tertentu' yang dianggap membahayakan pemerintah kota. Srintil adalah salah satu yang juga diciduk aparat. Tak urung, Rasus berusaha menemukan kekasihnya itu hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam suasana yang kaku; antara aparat dan rakyat.


Partai terlarang abu-abu
Sebagai film berlatar sejarah kelam politik, tampaknya Sang Penari memerlukan ilustrasi yang lebih berbicara. Dalam berbagai scene yang muncul dalam film ini, partai politik yang disebut-sebut 'bermasalah' tak diungkap terbuka. Sutradara bermain-main dengan warna merah untuk mewakili lambang partai yang dalam sejarah selama ini dikenal sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketidak-terbukaan penggarambaran lambang atau penyebutan nama partai ini tidak jelas maksudnya. Mungkin sutradara merasa lebih aman untuk tidak menyebutkannya atau membuatnya abu-abu. Namun, film yang juga mengangkat sejarah ini justru 'menutupi' cerita sesungguhnya. Penonton tidak mendapatkan data akurat tentang kejadian ketika itu.
   Hal yang cukup nyeleneh dalam film ini adalah pada property pakaian tentara, yang terlihat masih hijau pekat alias baru. Belum lagi kumis tentara yang diperankan Tio Pakusadewo terlihat sangat artifisial seperti ijuk, kurang luwes. 
   Beruntung suasana dapat terbangun oleh ilustrasi musik yang terus 'menempel' dalam scene-scene penting. Musik racikan Aksan Sjuman dan Titi Sjuman terasa mewakili gambar-gambar rekaman Yadi Sugandi selaku kameraman sejak awal hingga akhir.  Salah satu kekuatan lain film berterjemahan bahasa Indonesia ini adalah pada dialog yang hampir 100 persen menggunakan bahasa khas Banyumas yang 'ngapak-ngapak'. Terkesan unik, terkadang lucu namun ironis. Film ini akan sangat membanggakan masyarakat Banyumas. **


Teguh Imam Suryadi, Ketua Forum Penonton FIlm


    

Jumat, 04 November 2011

Film 'Semangat Silat Melayu' juara FFA Medan akan ditayangkan di TVRI


FILM terbaik II Festival Film Anak (FFA) Medan 2011, Semangat Silat Melayu mendapat apresiasi positif dengan penayangan dalam program Apresiasi Film Pelajar di TVRI Sumut pada 10 November mendatang.
   "Film yang berasal dari Langkat ini bagus dalam mengemas tema budaya, salah satu segi kehidupan kita yang patut dijunjung tinggi," kata Koordinator Tim Kreatif Abdul Aziz Lubis kepada wartawan di Medan, Selasa, (1/11). 
   Menurut Azis, para pembuat film yang mengangkat tema kearifan lokal dan kebudayaan daerah Sumatera Utara termasuk orang Medan, merupakan pilihan terbaik dari pada mencoba-coba menyaingi kelompok lain yang sudah mapan yang ada di luar Sumut. 
   "Untuk bersaing kita butuh proses dengan terus menggarap film-film yang diproduksi seperti One-D Pictures Langkat ini," terang Azis. 
   Disampaikan sineas Agung Film Maker Medan ini sangat senang FFA Medan yang diselenggarakan PKPA dan SFD telah dapat berlangsung selama empat tahun. 
   "Ini aset kebudayaan Medan , bahkan Sumut yang patut diapresiasi," ujar pembesut beberapa judul film yang pernah mendapat penghargaan itu. 
   Sutradara film Cintaku dan Kado buat Melati, Naga Bonar Merajut Impian dan Sampah ini menambahkan, film karya Komunitas Filmmaker Indie Langkat (FILA) ini akan ditayangkan di TVRI pada 10 November 2011 mendatang melalui program Apresiasi Film Pelajar. 
   "Insya Allah dalam acara tersebut akan menampilkan narasumber antara lain, Sutradara, Produser dan pemeran utamanya," cetus Aziz. 
   Lebih lanjut Misran Lubis, Direktur Eksternal Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) selaku penyelenggara FFA mengatakan, sesuai misi PKPA memberikan advokasi untuk melindungi dan memenuhi hak anak, program FFA yang diselenggarakan setiap tahun ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi regenerasi seniman Medan. 
   "Dari 24 film yang kita terima, film Semangat Silat Melayu menjadi salah satu film mampu memvisualisaikan tema FFA 2011 tanamkan jasamu, tinggikan budayamu," tutur Misran.
   Dikatakan Misran, malam puncak FFA 2011 diselenggarakan, 21 Oktober lalu di Taman Budaya Sumut dengan menampilkan film-film karya anak dari Medan, Deli Serdang, Purbalingga, Langkat dan Cilacap. (kf1)

DreamArch hidupkan animasi di Medan

INDUSTRI kreatif berbasis animasi di Kota Medan mulai berbunyi. Wadah berbagi ilmu animasi pun  menggeliat seperti kehadiran DreamArch rumah produksi animasi yang didirikan dua kembar Aditya ST dan Anditya ST yang kian berkibar. Keduanya memelopori kemajuan animasi sejak 2001 dengan membangun sekolah animasi, rumah animasi, dan komunitas animasi. Ki-ni mimpi dua bersaudara itu   menjadi nyata.
   ”Banyak orang berbakat dan kreatif di Medan yang tidak mendapat tempat di Medan, SDM nya selalu tersedot ke Jawa atau luar negeri. Maka kami jadi pionir sambil mencurahkan kreatifitas,” papar Aditya.
   Untuk mengembangkan animasi di Medan, dua bersaudara ini me-nerbitkan belasan buku panduan praktis animasi dalam berbagai je-nis piranti lunak mulai dari berdimensi dua (2D) seperti GIF Animation, Flash animation, hingga dalam 3D (tiga dimensi) didukung Co-relDraw, Adobe (Photoshop, After Effect dan Premiere) 3Ds Max serta ArchiCAD.
   Aditya didampingi kembarannya Anditya ST mengatakan, komunitas animasi di Medan saat ini mulai tumbuh pelan namun pasti, tera-rah dan terencana. “Meski belum sebanyak di Pulau Jawa seperti Yogya dan Bandung, keberadaan DreamArch dianggap signifikan untuk menopang kema-juan industri kreatif animasi di kota Medan,” kata Aditya kepada Kabar Film di Medan, Jumat lalu (9/9)  lalu.
   Kembar Adit dan Adin sejak kecil sudah suka menonton film kartun dan membuat animasi sederhana. ”Tahun 1996, ketika masuk perguruan tinggi kami berdua memilih bidang arsitek, karena alasan bidang yang paling dekat dengan animasi,” ungkap Adit.
   Setelah menamatkan sarjana, keduanya mempunyai mimpi besar untuk mengembangkan arsitek dan animasi di Kota Medan. Dalam ba-yangannya, disebut DreamArch Animasi, karena merupakan sebuah rumah animasi untuk mewadahi seluruh aktifitas terkait animasi.
Maka, pada Desember 2001 mulai didirikan DreamArch Animasi dengan studio animasi kecil-kecilan. Studio ini mulai mengerjakan se-jumlah proyek animasi seperti profil Sultan Serdang, visualisasi bank Su-mut Sukaramai, animasi Masjid Agung Mandailing Natal, video profil dan sebagainya. Sebagian dari hasil jerih payah dikumpulkan untuk mo-dal mengurus izin usaha DreamArch Animasi agar lebih dapat eksis di ranah publik.
   Di tengah masih minimnya apresi-asi masyarakat (apalagi pemerintah) terhadap animasi ditambah teknologi yang tidak secanggih saat ini Aditya melangkah jauh ke depan melampaui tren yang sepuluh tahun kemudian di Medan mulai digandrungi anak-anak muda.
”Untuk mencari litetatur bidang ini kami ke Jawa, karena di sana su-dah tumbuh,” kenang Adit.
   Setelah berjalan tiga tahun, ke-duanya kemudian membentuk Animator Club pada tahun 2004 untuk mengumpulkan beberapa teman yang telah dididik dan rekan yang memiliki minat di bidang animasi.
   Pada tahun 2005 untuk menjawab kebutuhan pengembangan DreamArch keduanya mengurus izin Dre-amAcrh menjadi perseroan terbatas (PT). ”Masyarakat kota Medan saat itu banyak yang ingin tahu membuat animasi,” tukasnya.
   Sejak perizinan DreamArch Animasi selesai, pada tahun yang sama, Aditya kita mulai melatih pelajar dan mahasiswa untuk membuat a-nimasi dengan membuka kursus sederhana. "Mimpi kita terwujud adalah suatu kebanggaan, tetapi kita bisa mewujudkan mimpi pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum lainnya yang kita latih, merupakan kebanggan yang jauh lebih besar,” terangnya.
   ”Kita membuat DreamArch sebagai bentuk hobby dan kecintaan kita pada bidang yang kita geluti arsitek dan animasi,” ujarnya pria kelahiran Medan, 6 September 1978 itu.
   Pengembangan edukasi di bida-ng animasi, imbuh Aditya, dimak-sudkan agar talent dan anak kreatif di Medan memiliki wadah kreatif yang selama ini tidak dimiliki kota sebesar Medan.
   ”Kita membentuk DreamArch, karena kita melihat pada tahun 20-01 situasi di Medan kurang terbuka dalam kemampuan kreatif yang dimiliki, sehingga sulit untuk saling berbagi, maka sekarang silakan bagi siapaun yang ingin belajar akan kita kasih tahu,” ungkap ayah satu putera itu.
   Aditya menjelaskan, animasi ti-dak boleh dipahami hanya sekedar film kartun, melainkan harus di-pahami lebih luas. Animasi adalah ilmu terapan. Aplikasinya sangat luas, bisa diaplikasikan ke arsitek-tur, ke games, film, animasi, video clip, visualisasi produk, simulasi, iklan, advertising, opening program TV, kedokteran dan bidang lainnya.
   ”Film kartun hanya bagian kecil dari sebuah industri animasi, walaupun dalam sejarahnya dan a-walnya, memang dari produksi film kartun yang dikembangkan oleh Walt Disney di Holllywood, seperti film kartun Mickey Mouse.
   Senada dengan Aditya, Anditya menambahkan, dalam mengembangkan DreamArch hingga di masa mendatang, pihaknya telah mempunyai blue print apa yang harus dilakukan, termasuk sistem kerja dari mulai perencanaan, penggalian ide, penyiapan SDM, modelling, mapping hingga rendering.
   Di awal tahun 2000-an, membuat animasi masih sesuatu yang dianggap ajaib di Indonesia, konon lagi dianggap sebagai kebutuhan.
”Membuat animasi pertama kali pada tugas akhir kuliah pada tahun 2002, kita bikin animasi bangunan,” kata Anditya. Indonesia, sambung Anditya, memang terlambat dalam menjawab kebutuhan teknologi. Belaka-ngan, ditetapkannya tahun 2009 sebagai tahun Indonesia Kreatif barulah banyak pihak yang memperhatikan animasi.
   Bahkan, pada tahun 2006, lanjutnya, ketika di Pulau Jawa animasi  mulai menggeliat, Gramedia Fair digelar setiap tahun, masih Dream-Arch yang satu-satunya di Medan yang pernah menggelar event nasional tersebut.
   ”Bersama sejumlah pembicara nasional, kita satu-satunya dari Medan nasional yang melakukan bedah buku animasi. Kerangka acuan untuk persyaratan tender proyek pun sekarang ini sebagian telah mewajidkan ber-bentuk animasi,” cetus Anditya.
   Aditya dan Anditya berharap, Medan sudah saatnya menjadi kota penyedia atau pemasok film-film a-nimasi dalam segala produk.
”Jadi misi DreamArch tak lain, menjadi ujung tombak kota Medan sebagai kota kreatif di bidang ani-masi melalui pelatihan animasi, workhsop animasi dan pengemba-ngan komunitas animasi sebagai wahana berbagi pengetahuan,” tu-tur Anditya. (Jufri Bulian Ababil)